13 November 2021

Losmen Bu Broto

 Rasa penuh penasaran dan nostalgi itu terpuaskan sudah. Berkat Mas Juki-Jogja HipHop Foundation saya dan nyonya kebagian menyaksikan film Losmen Bu Broto lebih awal daripada khalayak ramai.

 Bagi generasi baby boomer & Gen-X di Indonesia, serial drama LOSMEN di TVRI bisa dibilang merupakan tayangan yang sangat dinanti pada zamannya. Ide segar Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing seakan tiada habisnya mengupas sisik melik perlosmenan di kota Yogyakarta, berikut intrik dan cekcok yang timbul di dalamnya. Sudah tentu karakter Pak Broto, Bu Broto, Mbak Pur, Jeng Sri + Mas Jarot, Tarjo dan tak ketinggalan Pak Atmo telah sangat melekat di sanubari penggemarnya. Bagi temans yang penasaran seperti apa sih tampilan jadul di TVRI, silahkan bongkar Youtube, niscaya bertaburan di sana.



 

Bisa dikatakan film Losmen Bu Broto yang secara resmi mulai tayang pada 18 November 2021, adalah adaptasi layar lebar kedua, sebelumnya pada kurun 1987 Tatiek Maliyati menyutradarai film layar perak dengan judul Penginapan Bu Broto yang dimainkan artis asli tayangan TVRI, yang hari gini bisa dianggap film spin-off. Hingga pada 14 Desember 2020 lalu, shooting perdana film Losmen Bu Broto dilakukan di kawasan Kotagede, Yogyakarta; menjadi milestone Losmen Universe.

 Film Losmen Bu Broto wajib ditonton oleh para penggemar serial Losmen dahulu. Cukup banyak informasi yang tidak terungkap di Losmen TVRI dahulu; sebab musabab Mbak Pur masih setia melajang dan cenderung sober, bagaimana fajar kisah kasih Jeng Sri dan Jarod, masa muda Pak Atmo yang juara serabutan, hingga apa nama gadis Bu Broto sebelum menikah. Mengenai kualitas akting para pemeran so pasti djaminan moetoe; saatnya bagi penonton byoscoop milenial yang telah mengenal mereka.


Ada beberapa karakter peran pendukung yang sangat nJogjani dan menyita perhatianku; Oom Herman, atau mungkin lebih cocok Suk Herman, tamu losmen yang punya indra keenam dan menggemari perobatan herbal, dimainkan dengan apik oleh Pakdhe Landung Simatupang; Ki Juru Mertani (Sultan Agung), Kepala Sekolah “Laskar Pelangi” (Sang Pemimpi), Oerip Soemohardjo (Jenderal Sudirman) adalah sederet peran yang berkesan bagiku.

Mas Ian, kekasih Kirana duet Jeng Sri; sosok seniman yang telah berdamai dengan diri dan lingkungannya, kalau Jarod masih jembabasan, eh spoiler; yang pada akhir film turut tampil bersama Jogja Hiphop Foundation; Kak Juki alias KillTheDJ.

Turut bersenandung beserta suara khasnya, Mbak Silir, vokalis Kua Etnika & Sinten Remen; cameo Pak Mirkoen “Mbah Karsono” dari film pendek KTP, tak terabaikan Erick Estrada, perannya sebagai polisi di serial CHiPs yang ikonik, eh, Atmo karyawan losmen, dan Usmiyati yang sering bernama Mbak Tum pada film-film yang dimainkan olehnya.



Angkat topi pada duet sutradara Ifa Isfansyah et Eddie Cahyono, segenap team Paragon Pictures, Ideosource Entertainment, Fourcolors Films, dan Ideoworks. Alim Sudio yang telah tekun menulis kisah Losmen Bu Broto, dan Muhammad Firdaus selaku pengarah sinematografi. Tak terelakkan “Babahe” Ong Harry Wahyu, senior penata artistik sejagad film Indonesia.

Selain Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana X yang hadir pada Gala Premier di Jogja(13 Nov. 2021) juga tampak Kak Hanung Bramantyo dan juniors, sempat bertegur sapa dengan Pakdhe Landung Simatupang dan nyonya beserta Kak Agus Noor, sempat memaksa reka adegan KillTheDJ bagi-bagi tiket, dan toss penuh semangat dengan “Babahe” Ong pas otw parkiran.

 


Tulisan ini murni akibat rasa bungah atas peluncuran film Losmen Bu Broto, satu lagi denyut film nasional yang akan menjadi pembicaraan hingga di masa yang akan datang. Penulisan sembari diiringi lagu Kecap No.1 oleh Jogja Hiphop Foundation dan aneka versinya oleh Ndarboy Genk, Sinten Remen, Grrrl Gang dan Bravesboy.
Sekian.

12 January 2019

Doa Malam

Allah di sorga.
Dari rumah bambu sempitku
di malam yang dingin
tanganku yang rapuh
menggapai sorga-Mu.
Aku akan tidur di mata-Mu
yang mengandung bianglala
dan lembah kasur beledu.
Ketika angin menyapu rambut-Mu
yang ikal dan panjang
aku akan berlutut
di pintu telinga-Mu
dan mengucapkan doaku.
Doa adalah impian
dan segala harapan insan.
Di dalam doa aku bisikkan impianku.
Apakah Kau tertawa lucu?
Anakku yang kecil
memanjat jubah-Mu
dan tidur di dalam saku-Mu.
Sedang bulan di atas pundak-Mu
isteriku masuk ke dalam darah-Mu.
Ketika Engkau mengucapkan selamat malam
bunga-bunga kertas aneka warna
berhamburan dari mulut-Mu.
Bintang-bintang bertepuk tangan
dan serangga malam riuh tertawa
semua mengagumi-Mu:
Tukang Sulapan Tak Bertara.
Lalu Kau angkat tangan-Mu berpospor
gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan.
Dan itu berarti; selamat tidur
sampai ketemu esok hari
dengan sulapan yang lain dan baru.

---------------------------
Karya Rendra dalam kumpulan puisi Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972)

14 April 2015

Mary Jane Fiesta Veloso

Sahabat,
Sebelum saya berbagi kisah, sudilah membaca sumber-sumber berita berikut ini:

 Di akhir misa Minggu Kerahiman Ilahi, seminggu setelah Paskah, di Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosaria Suci Randusari Katedral Semarang, rama Pastur mengajak umat mendoakan para terpidana mati; baik yang masih di dalam persidangan, maupun yang sudah akan menjelang eksekusi. Dimanapun mereka.
Sepenggal kisah ditautkan di dalam buku panduan misa kali itu;

Mary Jane Fiesta Veloso, orang Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak sekolah dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia.
Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane dengan sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu.
Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bohong. Namun pengadilan di Indonesia mempidana ibu Mary Jane dengan hukuman mati.
Kini permintaan untuk peninjauan kembali telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpidana mati yang di Bali, Mary Jane menghadapi eksekusi.

Sebuah cerita yang sangat mengusik perhatianku. Bukan karena cerita itu ada di dalam teks panduan misa, melainkan betapa pintu bathinku diketuk olehNYA, "Hooii Farano, tahukah kau, banyak orang yang kini sudah tahu kapan akan menghadapi kematian?? Bagaimana denganmu?"
Terlepas dari segala tuduhan dan kesalahan, kenapa harus hukuman mati?Tidak adakah hukuman lain yang lebih manusiawi; kerja fisik, misalnya. Atau hukuman kerja sosial, misalnya. Atau sekedar dipenjara, misalnya.
Adakah?Rama Pastur berpesan; Gereja bukan membela kejahatan seseorang, tetapi menghargai arti kehidupan umat manusia.
Betapa semboyan yang masih kusimpan di dalam hati ingin kuserukan, Berani hidup dan tidak takut mati.

Agnus Dei qui tolis pecata mundi miserere nobis
Agnus Dei qui tolis pecata mundi miserere nobis
Agnus Dei qui tolis pecata mundi dona nobis pacem

[Semarang, 14 April 2015]

28 June 2014

Cahaya Dari Timur, Beta Pung Cirita

Aku, dibesarkan oleh angin dan gelombang...
Aku. dibesarkan oleh api dan batu karang...


Sebagai seorang anak kelas 4 SD, berpisah dengan kawan-kawan sekolah untuk pindah ke tempat yang asing tentulah tak mudah. Apa mau dikata, tugas Bapakku, FX Sri Waluyo Djati, sebagai pegawai pemerintah, membawa kami keluarganya; Mama Roos Moniaga, aku dan adikku Kartikajala; menuju tempat penugasan beliau yang baru, Pertamina Depot Dobo, Blakang Wamar, Dobo, Kep. Aru, Maluku Tenggara. Sambil berseloroh, bapakku menguatkan kami anak-anaknya, "Di sana, kita tak hanya bisa melihat TVRI, tapi juga televisi Autralia.."

Pasir putih, lautan jernih, langit biru, nyiur melambai, salam sapa ramah masyarakat, ikan-ikan nan melimpah dan berjuta icon yang dapat kusematkan pada Maluku, tak mungkin terhapuskan. Mungkin karena kenangan masa kecil dan logat serta berpuluh kata dialek Maluku masih terekam sempurna dibenakku, sudah tentu menggiring langkahku untuk menonton Cahaya Dari Timur. Dan memang, kutemukan berkas masa kecilku di sana.
Lupakan detail konflik antara "kubu merah" dan "kubu putih", meski cukup mendominasi hampir disepanjang film, seorang anak kecil yang akhirnya jadi korban kerusuhan, "meninggalkan" seuntai kalung besi putih pada genggam Sani, si tokoh utama. Beta pikir, itu sudah, film ini pung benang merah. Kalung jenis itu, yang konon berisi tuah para tetua, menghias leherku sejak terakhir kali menginjak tanah Maluku, medio Mei 2012.
Sani, seorang muslim sejati sebagaimana penduduk mayoritas Tulehu, sang pencinta sepak bola, ingin membuangnya ke laut dan urung hanya karena disadarkan oleh serombongan anak yang bermain bola di pantai.
Himpitan kebutuhan ekonomi, di kala itu, memaksa setiap orang untuk lebih menghabiskan waktu untuk mencari uang daripada sekedar menyalurkan hobi. Sebagai tukang ojek di Tulehu, salah satu kota pelabuhan hub ke pulau-pulau di sekitar pulau Ambon, tentu nafkah yang tak tentu menjadi halangan utama bagi Sani, demi menghidupi keluarganya. Beda dengan Rafi, kawan sepermainan bola kala kecil yang memiliki nasib lebih baik. Singkat kata, terkumpullah sejumlah anak yang dilatih oleh Sani dan Rafi, demi menghindarkan mereka dari kerusuhan yang terjadi, hingga berujung pada didirikannya Sekolah Sepak Bola Tulehu Putera oleh Rafi, yang menjadi salah satu konflik cerita utama, selain urusan keluarga Sani, masalah-masalah pribadi anak-anak pemain bola, dan sebagainya.

Tulehu yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terpisahkan oleh Suli, Passo yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, seakan menjadi wajah konflik Ambon yang terjadi di tahun 2000an awal. Hingga saat Sani Tawainella yang muslim, diminta untuk melatih sepak bola SMK Passo oleh pak guru Yosef Matulessy yang percaya kalau penyatuan dua agama utama di Ambon dalam satu klub sepak bola dapat membawa misi perdamaian.
Dengan rapi Angga Dwimas Sasongko mengemas perbedaan agama yang sangat mencolok pada awalnya, dan meleburkan batas perbedaan di separuh akhir cerita. Pelatih yang muslim dan asistennya yang Katolik, para anggota kesebelasan yang bercampur agamanya, dukungan Bapak Pendeta dari Passo yang membawa kolekte umat gereja untuk tambahan dana tim U-15 Maluku jauh-jauh ke Tulehu, berbaurnya warga yang nonbar di berbagai tempat, hingga siaran langsung final via telepon dari Jakarta yang diumumkan lewat pengeras suara masjid dan gereja. Bagi yang tidak tahu kalau ini adalah kisah nyata; tentu sudah dapat ditebak kalau tim sepak bola U-15 Maluku akan menjadi juara sebagai klimaksnya.

Cukup banyak adegan yang menyentuh hubungan dua manusia; Sani dan Hapsa (Shafira Umm) isterinya, saling menguatkan dikala susah; Jago dan ayahnya; Salim a.k.a Salembe dan ibunya; Alvin dan Mama (Jajang C. Noer); Sani dan Rafi, sahabat pelatih sepak bola, Sani dan Sufyan (Glenn Fredly) yang menyemangati dengan sebaris kata "Kase satu ingatan manis, setelah semua yang pahit, Sani.."
Hingga scene unik; betapa nakalnya Salembe di sekolah, Sani berenang di lautan untuk menenangkan diri, ajakan orang kampung untuk mengajak Sani terlibat rusuh, sepatu bola baru untuk Jago dari ayahnya, gunjingan masyarakat tentang Sani, yangditanggapi,  "Ada orang yang bajaga kampung, ada jua yang jaga anak-anak." ungkap Mama Alvin pemilik warung kopi di dekat dermaga.
Ole sioo, beta trus inga par warung kopi Sibu-Sibu jua ee...

Betapa perbedaan agama yang sempat mengacaukan Ambon, dibiaskan pula pada pemilihan casting; Sani/muslim yang diperankan Chicco Jericko/kristen, Yosef/Katolik yang diperankan Abdurrahman Arif/muslim. Terjalinnya kembali tali silaturahmi antara Islam dan Kristen, terwujud dalam satu kata; Maluku.
Tentu sebagai legalitas bahwa ini adalah kisah nyata, pada credit title ditampilkan foto dan kisah para pelaku sejarah; Kejuaraan U-15 Medco 2006, Sani, Sufyan, Alvin, dan lainnya; termasuk penghormatan bagi Bapa Raja Negeri Tulehu almarhum.
Dangke banya par Bapa Gita Wirjawan & Bapa Arifin Panigoro su boleh jadi Executive Producer; Bung Glenn Fredly, Bung Angga Dwimas Sasongko, Bung Ikhsan Tualeka su jadi Producer dan Co-Pruducer; Swastika Nohara dan M. Irfan Ramly su batulis cirita, tentu samua Team Visinema Pictures jua tra lupa beta ucap terima kasih.

Dari beta pung tertawa sampe beta pung airmata yang malele, suasana pantai dan wajah-wajah lugu masyarakat Tulehu-Passo, dangke banya jua su kase inga beta menyanyi "Buka Pintu" dengan iringan ukulele katong pung antua di pinggir pantai.
Semoga katong samua boleh dapa pesan perdamaian yang dong bawa, "...beking hidup lebe bae"


Yogyakarta, 28 Juni 2014

25 April 2014

Angsa Jantan Kepada Angsa Betina

Dii terik siang itu.. banyaklah pasangan yang datang
Sekedar berteduh atau mencari makan di danau
Para unggas, yang entah bagaimana caranya, dalam keramaian tak terpisahkan dan tak tertukarkan
Saling berpagutan, berdampingan

Ingatkah kau kala itu?
Ketika kita sering mampir di danau itu?


(07/12/2009 13.00)

13 December 2012

Litani Kecil Petarung Waktu

Bapa Maha Welas Asih, kasihanilah kami
Putra Maha Dermawan, kasihanilah kami
Roh Maha Cinta, kasihanilah kami

Dalam gulita malam, lindungilah kami
Ketika fajar menyingsing, terangilah kami
Kala pagi tiba, semangatilah kami

Sesaat menjelang siang, bimbinglah kami
Tatkala surya diujung kepala, teduhkanlah kami
Sang Baskara bergulir ke barat, selamatkanlah kami

Sore tiba tanpa pesan, kawanilah kami
Saat senja mulai datang, awasilah kami
Malam menjelang, sertailah kami

Engkau yang menghapus dosa dunia, sayangilah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, kuatkanlah kami
Engkau yang menghapus dosa dunai, teguhkanlah kami

Aku tahu Engkau ada, memberi udara tak terhingga disetiap rongga napasku dan deras darahku.
Amin.

25 January 2010

Coffee Morning Foundation : Sukuh-Ceto

Thanks to Coffee Morning Foundation Yogyakarta. I've never been to Candi Sukuh before, it's amazing to captures wonderful frames and fabulous new friends for sure.

21 October 2009

Palèrènan XIII : Gusti Yesus Dièdhakaké Saka Salib

Sesuai dengan kebiasaan dan etika yang berlaku di Yerusalem, menjelang dan saat hari Sabat tidak diperkenankan ada tubuh atau jazad yang tergantung di muka umum, meskipun jazad terhukum berat, sebagaimana Yesus.

Hari menjelang petang, para serdadu sudah mulai membereskan peralatan mereka. Begitupun para tetua adat Farisi sudah mulai bersiap-siap untuk pulang, karena malam itu adalah malam Sabath dan hari-hari berikutnya adalah Paskah umat Allah, Tuhan segala bangsa, Bapa Abraham, Bapa Yakub dan Allah Bapa Daud.
Nicodemus, salah seorang murid Yesus yang belajar secara sembunyi-sembunyi, dan juga anggota dewan adat Sanhedrin, tampak berbincang dengan Thomas, si "kembar". Rupanya mereka sedang berusaha meminta jazad Yesus kepada para serdadu. Melihat gelagat yang kurang nyaman, kedua terhukum yang disalib di sebelah kiri & kanan Yesus, yang tadinya lemas dan lunglai berharap akan diturunkan oleh teman atau saudaranya, mulai panik. Mereka berteriak-teriak meminta dibebaskan, toh sudah disalib, dan telah lewat sehari penuh.
Syarat yang diajukan oleh Centurion Severus melalui serdadunya; boleh menurunkan jazad Yesus, asalkan benar-benar telah menjadi mayat, bukannya masih bernapas dan ada kemungkinan hidup lagi. Para imam kepala yang sedianya akan kembali pulang, mengurungkan niat mereka, demi menyaksikan proses penurunan mayat, bukannya Yesus yang masih hidup.

Semakin keraslah teriakan dua terhukum, agar dibebaskan. Apa daya, salah seorang serdadu mengambil tongkat kayu, menohok ke dada Laban yang dijawab dengan lenguhan nyaring... Salah satu serdadu mengambil gada, mengayun-ayunkannya sejenak dan berhenti pada lutut Laban. Menghancurkan kedua lututnya. Laban terdiam.
Begitupun Zared, bertambah keraslah teriakannya, yang kemudian disumbat mulutnya dengan bunga karang yang dicucukan ada ujung tombak, merobek bibir dan pipi kirinya, bersamaan dengan mendaratnya gada penghancur di lututnya. Berakhirlah Zared.

Tibalah kini para serdadu pada jazad Yesus. Para tetua adat kini semakin tegang, adrenalin mereka terpacu akibat penasaran akan apa yang berlaku terhadap jazad Yesus. Adalah Yusuf Arimatea yang turut bergabung bersama mereka, para tetua adat sebagai salah satu penasehat, menyusul Nicodemus yang sudah ada di kerumunan. Ketika para serdadu sampai di bawah salib Yesus, di ambillah tongkat dan diketuk-ketukkan ke kepala dan dada jazad Yesus. Diam, tak bereaksi. Tibalah si serdadu pembawa gada penghancur yang hendak menghujamkan gada andalannya ke kaki jazad Yesus, rupanya masih belum puas dia..

"Hai..!! Percuma kau patahkan kakinya. Toh dia sudah mati."
Si serdadu gada tak percaya, di ambilnya tongkat, diketuk-ketukkan kembali kepala dan dada jazad Yesus. Tetap tak ada respon.
"Sudah.. tinggalkan saja..", gumam Nicodemus.
"Tidak..!!! Kami mau dia mati. Teruskan, patahkan kakinya..!!", seru para imam kepala. Terjadilah kegaduhan sesaat. Hingga Centurion Severus dengan kudanya, melerai keributan sepele itu. Mengambil tombak, menghampiri salib Yesus, dan kemudian menusuk lambung kanan Yesus, tepat di hati menembus paru-paru. Mengucurlah darah dan air dari lukanya, membasahi tanah bukit tengkorak.
"Bila memang masih ada yang meragukan kematian orang ini, biarlah dia juga merasakan tombak ini.", seru Centurion Severus menggetarkan hati sesiapa yang ada di sekitar arena penyaliban.
Hening.
"Terima kasih, Centurion. Keputusanmu adalah mutlak.", sahut Yusuf Arimatea. Si serdadu gada melemparkan gada andalannya, kesal sepertinya.

Perlahan, serobongan orang yang berada di dekat Thomas meringsek maju mendekati tiang salib Yesus. Tampak pula di sana Yohanes beserta Maria Bunda Yesus dan Maria dari Magdala. Seakan tanpa memperdulikan para serdadu yang sedang membereskan barang-barang mereka, kerabat dan sahabat Thomas menidurkan tiang salib Yesus dan dengan sistematis mereka mencabut paku-paku yang menancap di tangan dan kaki Yesus. Penuh ketelitian dan ketekunan.

Segera setelah jazad Yesus terangkat dari salib, Maria BundaNya menerima tubuh Yesus dalam dekapan penuh kehangatan dan cinta seorang Ibu.

Kembali, ungkapan itu terucap, "terjadilah padaku, menurut kehendakMu." Maria Bunda Yesus bersimpuh.

Palèrènan XII : Gusti Yesus Seda

Tanpa berusaha merasakan siksa, Yesus menguatkan hatiNya demi mendengar pembicaraan kedua orang yang disalib bersamaNya. Suasana yan tegang dengan angin yang menderu-deru, mengiringi para serdadu yang membereskan peralatan mereka.

"Hai, kamu..!! Kamukah itu si Yesus orang Galilea yang katanya mampu menyembuhkan orang sakit?" Zared, si tersalib menanyakan Yesus. Dia diam. "Hai, bisu..!! Mana pasukan dari kerajaanmu? Katanya kamu Kristus, Raja orang Yahudi.. buktinya kamu justru disalibkan mereka..ha..ha.ha..." "Zared..!! Sudahlah.. menjelang ajalpun kamu masih belum bertobat." hardik Laban, si tersalib satunya. "Kita memang pantas seperti ini, karena tak pernah sekalipun kita menyenangkan hati orang lain.."
"Ahh.. Laban, kau lupa, si Lillah, dia selalu senang pada kita.. apalagi setiap kali kita datang membawa hadiah untuknya. Kau lupa?"
Laban menundukkan kepalanya, mengingat-ingat banyak kejadian diantara mereka. "Zared..!! Lillah itu pelacurmu..!! Dan aku tak ikut-ikut persoalanmu.."

Dari kejauhan, tiga pemuda dari Bet Lehem, mengawasi cemas keadaan Yesus. Juga tampak di dekat mereka, Stefanus dan Simon, kepala rombongan murid dari Kirene, beserta Alexander dan Rufus, anaknya. Yohannes melihat kesempatan baik, seiring berlalunya para serdadu dari arena penyaliban. Yohannes memberanikan diri mengajak serta Maria Bunda Yesus, Maria Klopas, dan Maria dari Magdala lebih mendekat ke arah Yesus.
"Aku haus."
ujar Yesus. Yohannes kebingungan, tak kuasa menolong. Para serdadu yang mendengar, hanya melengos dan tersenyum sinis padaNya. Seketika dari kerumunan masa, Thomas yang disebut Didimus atau si kembar, karena begitu miripnya dengan Yesus, datang bergegas seakan tahu apa yang dikehendakiNya.

Setelah ada sedikit perbincangan dengan para serdadu, Thomas pun segera berlalu, sambil menitipkan pasu kepada para serdadu. Hexion, mengambil busa karang, kemudian menyiraminya dengan cairan dari pasu yang dititipkan oleh Thomas. Mencocokkannya ke ujung tombak, kemudian menyodorkan ke mulut Yesus. Satu dua teguk, kini telah diserap Yesus untuk membasahi kerongkonganNya. "Septus, gila Yesus ini.. anggur masam bercampur cuka masih diminumnya.. ha..ha.ha..." ujar Hexion setelah mencicipi cairan dari pasu Thomas.
Simon Petrus dan Yakobus, saudara sepupuan yang berdiri di seberang arena, bergegas mengejar Thomas. Masih heranlah mereka, bila Thomas bisa berlalu tanpa beban. Berjalan cepat, berlari kecil, dan langkah mereka terhenti ketika mendapati bahwa Thomas bersama Yusuf Arimatea dan Nicodemus, orang-orang penting di kalangan Farisi dan Saduki, orang-orang yang bersimpati pada Yesus.

Dalam kesakitanNya, Yesus tersenyum melihat semua kejadian dari atas kayu salib. Sambil menatap dalam mata Maria ibuNya, Yesus bersabda, "Ibu, inilah Anakmu. Anak yang kau lahirkan dan kau besarkan. Kini tergantung Aku di sini." Sambil melirik ke arah Yohannes, Yesus menunjuk ke arahnya dengan ujung hidungNya, sambil bersabda "Ibu, Inilah anakmu kini. Anak yang akan meminta pertolonganmu dan memujamu sepanjang waktu."
Maria Bunda Yesus terisak. Nanar Yesus menatap dalam mata Yohannes kini, penuh ketegasan, menunjukkan Maria BundaNya dengan ujung hidungnya, "Inilah ibumu." Yohannes terkesiap, semakin teguhlah hatinya.

Waktu sudah semakin sore, panas terik kini berganti dengan mendung bergulung-gulung dan petir menyambar, satu dua kali. Cuaca yang tadinya cerah menjadi kelam menakutkan. "Consummatum est."[Sudah selesai] seru Yesus dengan lantangnya.
Bumi tak kuasa melawan kekuatan Ilahi, terjadilah gempa dan angin ribut. Koyaklah tirai Bait Allah. Datanglah badai menerpa. Kerumunan masa, dan para serdadu menjadi kocar-kacir tak karuan.

Centurion Severus menggigil, belum pernah ia merasakan hal sedemikian dashyatnya "vere Dei Filius erat iste.."[Sungguh, Ia ini Anak Allah] gumamnya.

Palèrènan XI : Gusti Yesus Dipenthang

Hari semakin siang, sang mentari telah jauh meninggalkan ufuk. Dengan hentakan-hentakan kasar, Yesus dipaksa untuk merebahkan diriNya diatas palang kayu yang dipikul olehNya sedari pagi tadi. Dalam keadaan telanjang, Yesus mengerang, merasakan sakit luar biasa, luka bekas siksa semalam hingga dini hari yang mulai mengering, terbuka lagi, kembali meneteskan darah segar di sekujur permukaan kulitNya.

"Septus, cepat diselesaikan!!" perintah Centurion Severus, mengingat hari yang semakin terik. Bergegaslah serdadu Septus dan teman-temannya. Perihal menyalibkan orang bukan perkara sulit, mereka telah terbiasa. Akan tetapi, tiga orang dalam satu kesempatan adalah hal yang luar biasa, mengingat pada tiga hari kedepan, para orang Yahudi akan memperingati Paskah, hari terbebasnya para leluhur mereka dari tanah Mesir, yang berarti tidak akan ada acara penyaliban.

Setelah dirasa cukup pada palang salib, tangan Yesus direntangkan membuka kesamping dan diikat. Sayangnya, tangan kananNya telah kaku, kram, kejang yang diakibatkan oleh siksa yang kelewat berat, dan kecapaian memikul palang salib. Serdadu Septus dan Hexion mengikat seutas tali kasar pada pergelangan tangan Yesus, dan dengan kasarnya mereka menarik tali itu sambil dihentak-hentakan agar dapat meluruskan tangan Yesus, sejajar dengan palang salib. "Aaaarrrrgghh....!!!" jeritan menyayat hati terdengar dari mulut Yesus. Semakin menciutkan nyali kedua orang tersalib bersamaNya.

Tak seberapa lama, dalam suasana serba terburu-buru, dan dihiasi jeritan dan lenguhan dari tiga orang terpidana salib, suara palu yang menghantam paku bergantian terdengar, silih berganti.

Centurion Severus, yang kini telah turun dari kudanya, melepas jubah kepangkatannya, berdiri di tengah arena penyaliban, mengawasi para serdadu bawahannya. Tampak dipundaknya, bekas luka hasil pertempuran di Crete, dan bekas sayatan panjang karena sabetan pedang di Macedonia, bukti nyata bahwa Centurion Severus telah malang melintang dalam kedinasan militer Romawi.
"Bersiap..." Centurion Ceverus memberi aba-aba. "Naikkan..!!"
Dalam suatu gerakan yang tertib dan penuh kedisiplinan, ketiga salib secara perlahan ditegakkan.

Sambil menarik napas panjang, Yesus menatap Yerusalem dan mendoakannya dari tiang salibNya.

Palèrènan X : Gusti Yesus Dilukari

Jalan semakin terjal. Yesus menapaki langkahNya satu demi satu, mendaki bukit Calvary. Ditengah suasana riuh para penghujat suruhan para imam kepala, dan bentakan-bentakan kasar para serdadu anak buah Centurion Severus, ada angin segar bertiup disana. Menyejukkan raga Yesus yang telah lemah. Terbuaikan.

Seorang serdadu meraih lengan Yesus, menarikNya dengan paksa, hingga salibNya terjatuh berdebam di tanah. "Ha..ha..ha... mana kuasamu..??" ejekan para serdadu tak henti hentinya. Dalam lelahNya, pakaian Yesus yang terbuat dari tenunan utuh, di tarik, dan kemudian dilepaskan dari tubuhNya. "Buat apa Septus? Akan kau apakan baju itu?" tanya seorang serdadu kepada yang lain. "Lumayan, untuk alas tidur kuda di istal." Serdadu Septus menimpali. "Septus, buatku saja, akan kupakai untuk kain pel di rumah Pontius!" "Tidak, aku yang pertama memukulnya, jadi baju itu untukku!!" "Enak saja, kuda Centurion lebih membutuhkan.!!" Melihat gelagat yang sangat memalukan itu, Centurion Severus memutuskan agar mengundi siapa yang berhak mengambil baju rombeng itu. Genaplah apa yang disyairkan oleh Daud "Diviserunt sibi vestimenta mea, et super vestem meam miserunt sortem" [Mzm 22:19]

Sambil mempersiapkan penyaliban Yesus, Centurion Severus memerintahkan seorang serdadu untuk memasang sebentuk papan bertulisan pada salib Yesus. Iesus Nazarenus Rex Iaudeum bunyinya; Yesus orang Nasaret, raja orang Yahudi. Para imam kepala Farisi segera melancarkan protes kepada Pontius Pilatus, "Dia bukan raja orang Yahudi. Ganti dengan Aku Raja Yahudi. Dia sendiri yang mengatakan itu" Dengan penuh ketegasan, Pilatus menjawab, "Quod scripsi, scripsi.!!"[Apa yang tertulis, tetap tertulis.]

Seakan tak habis-habisnya para serdadu mempermainkan Yesus. Sambil mengolok-olok Yesus, mereka memberikan anggur masam, hasil fermentasi yang tak jadi, dicampur cuka, diminumkan kepada Yesus. Konon, minuman tersebut mengandung bius, yang bila diminumkan kepada terhukum, akan menjadikannya kebal terhadap sakit, sehingga para serdadu dapat lebih lama lagi mempermainkan terhukum. Yesus yang telah mengetahui siasat mereka, memuntahkan kembali minuman itu, demi meluluskan pengorbananNya.

Dalam siksa ragawi dan beban bathin yang berat, Yesus masih sempat berdoa. "Pater, dimitte illis, non enim sciunt quid faciunt." Sebuah permintaan penuh kepasrahan pada Bapa. [Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat]

-----------------------

Useful page : http://www.trosch.org/chu/latin-prayers.html

Palèrènan IX : Gusti Yesus Dhawah Kaping Teluné

Sembari diseret dan ditendang, Yesus kembali terseok. Jalan yang semakin mendaki, menyusahkanNya untuk maju. Belum lagi cacian dan makian para orang suruhan imam Farisi, semakin beringas dan keras. Sungguh, tanpa diduga dan disangka, salib yang dibawa oleh Simon orang Kirene, menyenggol kaki Yesus, dan terjatuhlah Dia.

"Ha..ha..ha.ha... Lihat, bahkan yang membawa salib juga mau menyiksamu.." Senang hati rupanya, para ekstrimis Saduki. Simon terdiam, merasa bersalah. Dihempaskannya salib, dan menunduk memohon maaf pada Yesus. "Rabbi, ampunkanku.. sungguh, tak ingin aku melukaiMu."

Seperti biasa, Yesus hanya tersenyum. "Biarlah salib itu kubawa sendiri, sepertinya sudah dekat." Dengan mantap, Yesus berdiri kembali, mengambil salibNya, membiarkan Simon yang terduduk diam.

Palèrènan VIII : Gusti Yesus Nglipur Para Wanita Yerusalem

Adalah Martha, janda tiga anak yang ditinggal mati suaminya. Seorang Ibu yang dengan tulusnya menyapa Yesus ditengah sengsaraNya. "Rabbi, bangunlah, kami mencintaimu.." Maria dari Magdala, Maria saudara Martha, dan Hanna orang Samaria; ketiga perempuan yang tadinya selalu mengikuti Maria Bunda Yesus kini ada pula di sana. Rupanya mereka kurang puas hanya melihat dari kejauhan, ketika Bunda Yesus bersua AnakNya.

Masih tersedu-sedan, para wanita dan simpatisan Yesus memanggil-manggil namaNya. "Yesus, kuatkan hatiMu..".. "Rabbi, jangan Kau biarkan ini terjadi.." Yesus tersenyum, menengadahkan kepalaNya dan bersabda, "Filiae Hierusalem, nolite flere super me.." Agak terdiam kini, para perempuan yang menangis. "Super vos ipsas flete et super filios vestros.." (wahai puteri Yerusalem, tak perlulah menangisiku.. tangisilah dirimu dan tangisilah anak-anakmu.)

"Quoniam ecce, venient dies in quibus dicent: beatae steriles et ventres qui non genuerunt, et ubera quae non lactaverunt." Sabda Yesus mendiamkan mereka. (Sebab lihatlah, pada waktunya orang-orang akan berkata: berbahagialah perempuan mandul dan tidak pernah melahirkan, dan susunya tidak pernah menyusui.)
Semakin bingunglah para perempuan yang meratap.

Demi melhat Yesus yang sempat bercakap-cakap, para serdadu Romawi segera menarikNya. Membawanya menjauh dari massa. "Tunc incipient dicere montibus: cadite super nos, et collibus: operite nos.!" Yesus bersuara lantang menyikapi perlakuan para serdadu. (Maka orang-orang akan berkata kepada gunung-gunung: runtuhilah kami, dan kepada perbukitan: timbuni kami.)
"quia si in viridi ligno haec faciunt in arido quid fiet?" Imbuh Yesus, yang oleh Centurion Severus dianggap telah meracau karena lelahnya. (Sebab jika orang perbuat seperti itu terhadap kayu hidup, lantas apa yang akan terjadi dengan kayu kering?)


Para perempuan peratap Yesus, semakin menjadi. Mereka kini meraung-raung menangisi Yesus. Beberapa simpatisan Yesus tertegun, berusaha memahami sebaris bait yang pernah mereka dengar di Sinagoga, sebaris bait dari kitab Hosea.



Para serdadu Romawi, kembali memaksa Yesus untuk meneruskan jalan salibNya.



---------------------


Related article : Luke 23:27-31

22 April 2009

Palèrènan VII : Gusti Yesus Dhawah Manèh

Meski telah dipapah Alexander dan Rufus; Yesus tetap kesulitan berjalan. Semua balur-balurNya kini seakan menganga berteriak meminta perhatian. Sebelumnya tak terasa karena perhatian Yesus lebih tertuju untuk memanggul salib. Kini tanpa beban lebih, luka hasi siksa para serdadu Romawi lebih terasa.

Hiruk pikuk kerumunan massa terusik ketika terdengar suara kuda yang berderap di jalanan. Seorang Centurion, diikuti beberapa serdadu datang melaju dari arah bukit Golgota, seakan menjemput iring-iringan Yesus. "Percepat jalannya..!!" Perintah Centurion Severus dengan congkaknya, tetap dari atas kudanya. "Hari semakin siang, tinggal sedikit waktu kita untuk bermain dengannya..".
Bagai disengat kalajengking, para serdadu mendadak menjadi berigas, lebih ganas dari sebelumnya.

Para simpatisan Yesus yang tadinya ada di sekitarNya, serta merta dihalau agar menjauh, tak terkecuali Alexander dan Rufus, juga Stefanus dan sisa anggota rombongan Simon. Yesuspun dipaksa untuk kembali memanggul salibNya. Simon tak tahan, "Tuan Centurion, biarkan saya memanggul salib ini, percuma kau paksa Dia." Simon meminta dengan harapan besar. "Ayolah, biarkan saya, akan lebih lama lagi sampai di Calvary." Dengan satu anggukan angkuh, Centurion Severus membolehkan.

Jalanan yang tak lagi rata, menyulitkan Yesus untuk terus berjalan. Tapak demi tapak, langkah demi langkah, dèpa demi dèpa.. dan tanpa disadariNya, sebongkah batu menghadang kaki Yesus. Terjembablah Dia. Bertambahlah luka yang telah banyak di sekujur badanNya. "Rabbi, bangunlah, kami mencintaimu.." teriakan para wanita Yerusalem terdengar lamat-lamat di telingaNya.

Meski mata Yesus tak mampu meihat lagi dengan jelas, suara sapaan cinta seorang Ibu kembali menguatkanNya.

Palèrènan VI : Feronika Ngusapi Pasuryan Dalem

Rombongan Simon dari Kirene, masih menuntun Yesus menyusuri jalan salibNya. Para simpatisanYesus tak henti-hentinya menangisi bahkan berteriak-teriak histeris, "Tuhan, apa salahMu..??" "Rabbi, kuatkan hatiMu, kami selalu mencintaiMu.." "Yesus, pintalah, kami akan melawan mereka.." Ekstrim.

Dengan ketatnya, Alexander dan Rufus menjaga Yesus dengan maksud menculikNya untuk dibawa menyimpang dari arah ke Calvary. Perlahan dan pasti. Dengan mundurnya para pemuda dari Bet Lehem, serdadu Romawi segera kembali mengawasi Yesus. Demi melihat ada beberapa orang lain berwajah baru dan belum dikenal, para serdadu kembali mencambuk dan menendang mereka, para anggota rombongan Simon. Terjadi lagi, kegaduhan yang lebih hebat daripada sebelumnya. Perkelahian antara simpatisan Yesus dan para serdadu. Sekonyong-konyong datang bantuan bagi para serdadu, sekelompok besar orang suruhan imam Farisi yang turut menghalau Stefanus dan kawan-kawan.

Dalam kericuhan, Veronica mendesak maju menuju ke arah Yesus dari sela-sela massa. Dengan mantap dan yakin tanpa takut terusikkan sesiapapun. Sambil membawa pasu kecil berisikan air segar yang bercampur madu, Veronica berlutut di depan Yesus, mengusap wajah Yesus dari keringat, darah dan debu, meski hanya dengan secarik kacu dari pinggangnya. Menyegarkan.
Pasu yang dibawa Veronica segera disodorkan ke bibir Yesus agar dapat segera diminum olehNya. Belum juga seteguk air madu yang terkecapi, kaki serdadu Romawi telang berganti di sana. Pasu itu pecah berkeping-keping, air madu pun tumpah, membasahi jalanan batu. Veronica menjerit histeris memukul-mukul serdadu tadi dengan tangan rapuhnya.
"Sudahlah, biarkan saja." Sabda Yesus. "Ia hanya menjalankan tugasnya. Terima kasih kau telah segarkan bathinKu." Merasa dibenarkan perbuatannya, serdadu tadi malah tertawa terbahak-bahak, menertawakan Veronica. Dengan wajah kuyu, Veronica mengambil kembali kacunya, yang sempat diinjak oleh serdadu tadi. "Akan kusimpan kacu ini, sebagai kenangan akan diriMu, Rabbi."

Yesus tersenyum, penuh kedamaian.

--------------------------------------------

Related article:
New Advent & Wikipedia

Palèrènan V : Gusti Yesus Di Tulungi Simeon Wong Sirena

Hari semakin siang, panas matahari yang membakar turut melemahkan Yesus. Para penghujat Yesus masih ada di sepanjang jalan, terus menerus memakiNya. Malkhi, seseorang yang pernah disembuhkan Yesus dari kebutaan menerobos barisan serdadu Romawi. Memaksa untuk memberi bantuan. Tentu saja para serdadu menolak mentah-mentah. Begitupun Remigus, yang dulu berpenyakit lepra, ditendang dengan entengnya oleh para serdadu karena hendak menolong Yesus.

Melihat gelagat yang sangat tidak enak itu, para pemuda dari Bet Lehem kebingungan mencari cara untuk menolongNya. Datanglah Stefanus [orang yang kelak menjadi martir pertama], menawarkan sebuah gagasan ditengah peliknya keadan. "Aku baru saja datang dari Kirene, bersama rombongan yang ingin bertemu dengan Rabbi. Kami akan bantu Rabbi membawa salib." Ketiga pemuda Bet Lehem seperti mendapat harapan baru. "Bagaimana kau akan melakukannya?"
Stefanus terdiam sejenak. Berpikir keras. "Begini, tolong kalian hambat sejenak iring-iringan ini. Nanti biar Simon, kepala rombongan kami yang akan memutuskan." Segeralah Stefanus melesat, hilang di tengah kerumunan massa.

Terinspirasi dari Malkhi dan Remigus; Yoakim, Ruben, dan Yeremia anak Simeon, kembali menghadang parade berdarah itu. Memohon agar diperbolehkan membantu Yesus. Salah serang serdadu melihat mereka dan menyadari kalau ketiga pemuda itu adalah pembuat onar beberapa waktu sebelumnya. Bukannya di ajak bicara, melainkan tamparan dan pukulan bertubi-tubi menghujam ketiga pemuda Bet Lehem.

"et angariaverunt praetereuntem quempiam Simonem Cyreneum, venientem de villa patrem Alexandri et Rufi, ut tolleret crucem eius." (Mark 15:21)
Seakan tanpa tahu apa-apa, Simon melintas begitu saja, dan dipanggil oleh serdadu untuk membawakan salib Yesus, sementara serdadu lainnya sibuk melayani ajakan ribut para pemuda. Inilah saat yang dinanti, Simon dengan ketegasan memanggul salib Yesus, Alexander dan Rufus anak-anaknya, memapah Rabbi Yesus untuk terus berjalan. Demi melihat peristiwa itu, ketiga pemuda Bet Lehem pun berhenti melakukan konfrontasi dan mundur teratur.

Setiap beberapa dèpa, Simon dan Stefanus; juga Alexander dan Rufus, beserta anggota robongannya, bergantian memikul salib dan memapah Yesus. Yohannes dan Maria Bunda Yesus tersenyum bahagia dari kejauhan, menyaksikan kejadian indah tadi.

Yesus tetap tabah berjalan, menuju puncak kejayaanNya.

Palèrènan IV : Gusti Yesus Kapapag Ingkang Ibu

Maria, Bunda Yesus, dikawal Yohannes dan beberapa pemuda dari Bet Lehem; Yoakim, Ruben, dan Yeremia anak Simeon, menerobos kerumunan massa, masuk keluar gang-gang sempit untuk memotong jalur perarakan Yesus oleh serdadu Romawi. Tampak pula Maria dari Magdala, Maria saudara Martha, dan Hanna orang Samaria ada dalam rombongan kecil Bunda Maria. Sementara di seberang jalan sana, di lorong yang lain, Yakobus & Simon Petrus, dua saudara sepupuan, turut mengikuti parade berdarah itu secara sembunyi-sembunyi. Ah, masih takut pula Petrus, bila ketahuan seperti dini hari tadi.

Setelah melewati tikungan, iring-iringan Yesus berbelok kiri, kearah selatan menuju bukit Tengkorak. Sambil tetap berteriak, para serdadu kembali menyuruh kerumunan massa untuk memberi jalan, karena dirasa kecepatan tempuh semakin melambat. Yohannes dan rombongan kecilnya telah menunggu dari jarak sepelemparan batu kedepan, semoga ada kesempatan untuk menghibur Yesus.
Iring-iringan semakin maju, mendekati Maria Bunda Yesus. Ketika sampai pada hitungan dua dèpa, terjadi hal yang tak diduga. Tanpa adanya kesepakatan dan perhitungan yan matang, Petrus dan Yakobus menghalau para serdadu dari sisi kanan iring-iringan Yesus. Terjadi sedikit kegaduhan. Rupanya Petrus telah mengeraskan hati untuk melawan keadaan, Ya, Simon si batu karang.

Demi melihat kesempatan yang baik, para saudara jauh Yesus dari Bet Lehem, turut memperkeruh suasana, mengganggu para serdadu dari sisi kiri mereka. Suasana semakin gaduh, Yesus terdiam, dan berlutut di jalanan. Maria Bunda Yesus, perlahan mendekati PuteraNya, mencium keningNya, mengusap pipiNya yang penuh darah dan keringat. Yesus menengadah, tersenyum dan bersabda, "Ibu, inilah jalanKu. Jadilah Ibu bagi dunia, jadilah Ibu bagi semua orang sebagai penggantiKu.."
Maria Bunda Yesus telah menyadari bila PuteraNya akan menyampaikan hal itu, "Yesuha, bagaimanapun, Kau tetap AnakKu.." Yohannes yang selalu mendampingi Maria turut tersenyum demi melihat kepasrahan dan ketegaran hati Yesus.
Suasana semakin panas, Petrus dan Yakobus tak kuasa melawan serdadu Romawi, begitupun Yoakim, Ruben dan Yeremia; orang-orang suruhan para tua adat Farisi membantu para serdadu untuk melawan mereka. Yohannes, segera menarik Maria kesisi jalan agar tak terkena tendangan para serdadu yang kini membabi buta. "Rabbi, aku akan membebaskanMu.." seru Petrus. Alih-alih senang, Yesus menatap dalam ke mata Simon Petrus, seakan menyuruhnya untuk pergi, jauh, tak perlulah membebaskanNya.
Petrus si nelayan Capernaum, seakan paham maksudNya, mundur teratur bersama Yakobus sepupunya.

"Bangun kau pemalas.!!", serdadu Romawi menarik dan memaksa Yesus untuk kembali berjalan..

25 March 2009

Palèrènan III : Gusti Yesus Dhawah

Para serdadu Romawi sibuk membuka jalan bagi Yesus yang sedang memanggul salib. Semua suara bercampur menjadi satu, riuh rendah penuh kegaduhan. Dari yang menghujat: suruhan dan simpatisan kaum Farisi, tua adat Saduki, massa yang telah terprovokatif, serdadu Romawi; hingga yang mendukung dan memberi support: orang-orang yang pernah disembuhkan Yesus, para muridNya, saudara sesama peziarah dari Galilea, para pelacur dan penjahat, para pemungut cukai, orang kebanyakan yang pernah merasakan dicintai dan dikasihi olehNya.

Sedari rumah Pontius Pilatus, perarakan Yesus berlanjut ke arah barat, menyusuri lorong sempit beralaskan jalan bebatuan yang telah ada di sana sejak masa Salomon. "Pembohong..!! Kalau kau memang anak Tuhan, buktikan..!!!" Para penghujat tak henti berseru. "Panggil laskar malaikatmu..!!"

Para serdadu semakin tak sabar, ingin segera mengakhiri prosesi tersebut, mereka berteriak-teriak, menghunus pedang sambil mengayun-ayunkannya agar massa memberi jalan menuju bukit Golgotha. Salah satu serdadu dengan mudahnya menendang Yesus, dengan maksud memaksa agar mempercepat jalannya. "Ya Tuhan.. jangan kau tendang Dia. Andai kau mengalaminya..", sambil terisak beberapa wanita, teman seperjalanan Maria Bunda Yesus memohon pada serdadu itu.



Karena lelah disiksa , Yesus sempoyongan dan terjatuh.. Satu tendangan serdadu di kaki Yesus semakin melemahkan tubuh Yesus. Lutut lemah Yesus, terpaksa harus menerima beban tubuhNya, menghujam jalanan batu.Kesakitan tersebut adalah kesempatan bagiNya, mengambil napas dalam-dalam, menyeka keringat dan darah di wajahNya, menelan ludah bercampur darah, sebagai penyegar ragawi.

Dalam satu hentakan, Yesus kembali berdiri. Meneruskan tugas perutusanNya.

------------
NotaBene:
Photo taken by Hanan Isachar/CORBIS

Palèrènan II : Gusti Yesus Manggul Pamenthangan

Masih terdengar, riuh rendah suara massa yang beringas, "Crucifige..!! crucifige Iesu.!! Crucifige illum..!!" Meski para serdadu pengawal Pontius Pilatus telah membawa Yesus masuk ke dalam arena penghukuman. Tendangan, pukulan, cambukan, tak henti-hentinya mendera tubuh Yesus. Darah dan keringat membasahi lantai arena penghukuman. Tak ketinggalan, sebuah mahkota yang terbuat dari tanaman berduri turut menghiasi kepala Yesus.

Sambil mencambuk dan memukul Yesus, para serdadu mengolok-olokNya, "eum have rex Iudaeorum..!!" Memberinya tongkat perlambang kekuasaan, berlutut dan membungkuk di depan Yesus, memberi hormat, dan dalam sesaat kemudian meludahi wajahNya...
Dalam kesakitan dan kelelahanNya, Yesus masih sempat tersenyum melihat para simpatisanNya yang masih berseru untuk membebaskanNya. Yesus kembali teringat sabdaNya "..Filius hominis tradetur ut crucifigatur."(Mat.26:2) Mereka masih belum paham akan sabda Yesus..

Sebentuk kayu gelondongan yang masih kasar, disampirkan ke pundak Yesus, setelah Yesus dipaksa berdiri. Sambil menendang Yesus, para serdadu menggiringNya untuk berjalan menuju bukit tengkorak.

Perjalanan masih panjang..



---------------

Related Articles:
Matthew 27:27-31, Mark 15:16-20

Palèrènan I : Gusti Yesus Kapatrapan Ukum Kisas

"Tu es rex Iudaeorum?" tanya Pontius Pilatus.
"Tu dicis.." Jawab Yesus.
Sebuah pembelaan tanpa perlawanan telah diajukan olehNya. Tetap saja massa asuhan para imam kepala dan tua-tua adat Farisi & Saduki semakin beringas. Mereka menuntut hak mereka untuk didengar oleh penguasa, menuntut hak mereka agar penguasa membebaskan satu tahanan bagi mereka. Barabbas, seorang anggota SICARIIi, penjahat berat penentang kekuasaan Kekaisaran Romawi. "non hunc, sed Barabbas..!!"
Semakin beringas, massa berseru, "Crucifige..!! crucifige Iesu.!! Crucifige illum..!!"

Beberapa orang yang merasa pernah ditolong oleh Yesus tersadar.. mereka merasa harus membalas kebaikanNya. Mereka pun berteriak memohon pengampunan dan pembebasan bagi Yesus, Sang Putera Bapa. Yesuha bar Abbas... Entah setan mana yang menutup telinga penguasa, nama Yesuha tersamarkan, hanya bar Abbas yang terdengar. Bebaslah Barabbas...


Pontius Pilatus menyerahkan Yesus kepada massa, hanya karena khawatir pada kedudukannya yang akan dikira mendukung pemberontakan. Dia tidak tahu, sebuah revolusi cinta sedang bergolak. Sebentuk kebencian yang menyamarkan rasa cinta itu sendiri. Bukankah karena begitu cintanya seseorang bisa menjadikannya benci tak ter peri?
Yesus menerima apa adanya, tanpa protes. Membiarkan dirinya larut dalam amuk massa, membiarkan dirinya diikat dan menerima pukulan, cambukan, tendangan.. The show must go on...

---------------------

Related articles:
Matthew 27:11-26, Mark 15:1-15,
Luke 23:13-25, John 18:28-40 - 19:1-16