Aku, dibesarkan oleh angin dan gelombang...
Aku. dibesarkan oleh api dan batu karang...
Sebagai seorang anak kelas 4 SD, berpisah dengan kawan-kawan sekolah untuk pindah ke tempat yang asing tentulah tak mudah. Apa mau dikata, tugas Bapakku, FX Sri Waluyo Djati, sebagai pegawai pemerintah, membawa kami keluarganya; Mama Roos Moniaga, aku dan adikku Kartikajala; menuju tempat penugasan beliau yang baru, Pertamina Depot Dobo, Blakang Wamar, Dobo, Kep. Aru, Maluku Tenggara. Sambil berseloroh, bapakku menguatkan kami anak-anaknya, "Di sana, kita tak hanya bisa melihat TVRI, tapi juga televisi Autralia.."
Pasir putih, lautan jernih, langit biru, nyiur melambai, salam sapa ramah masyarakat, ikan-ikan nan melimpah dan berjuta icon yang dapat kusematkan pada Maluku, tak mungkin terhapuskan. Mungkin karena kenangan masa kecil dan logat serta berpuluh kata dialek Maluku masih terekam sempurna dibenakku, sudah tentu menggiring langkahku untuk menonton Cahaya Dari Timur. Dan memang, kutemukan berkas masa kecilku di sana.
Lupakan detail konflik antara "kubu merah" dan "kubu putih", meski cukup mendominasi hampir disepanjang film, seorang anak kecil yang akhirnya jadi korban kerusuhan, "meninggalkan" seuntai kalung besi putih pada genggam Sani, si tokoh utama. Beta pikir, itu sudah, film ini pung benang merah. Kalung jenis itu, yang konon berisi tuah para tetua, menghias leherku sejak terakhir kali menginjak tanah Maluku, medio Mei 2012.
Sani, seorang muslim sejati sebagaimana penduduk mayoritas Tulehu, sang pencinta sepak bola, ingin membuangnya ke laut dan urung hanya karena disadarkan oleh serombongan anak yang bermain bola di pantai.
Himpitan kebutuhan ekonomi, di kala itu, memaksa setiap orang untuk lebih menghabiskan waktu untuk mencari uang daripada sekedar menyalurkan hobi. Sebagai tukang ojek di Tulehu, salah satu kota pelabuhan hub ke pulau-pulau di sekitar pulau Ambon, tentu nafkah yang tak tentu menjadi halangan utama bagi Sani, demi menghidupi keluarganya. Beda dengan Rafi, kawan sepermainan bola kala kecil yang memiliki nasib lebih baik. Singkat kata, terkumpullah sejumlah anak yang dilatih oleh Sani dan Rafi, demi menghindarkan mereka dari kerusuhan yang terjadi, hingga berujung pada didirikannya Sekolah Sepak Bola Tulehu Putera oleh Rafi, yang menjadi salah satu konflik cerita utama, selain urusan keluarga Sani, masalah-masalah pribadi anak-anak pemain bola, dan sebagainya.
Tulehu yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terpisahkan oleh Suli, Passo yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, seakan menjadi wajah konflik Ambon yang terjadi di tahun 2000an awal. Hingga saat Sani Tawainella yang muslim, diminta untuk melatih sepak bola SMK Passo oleh pak guru Yosef Matulessy yang percaya kalau penyatuan dua agama utama di Ambon dalam satu klub sepak bola dapat membawa misi perdamaian.
Dengan rapi Angga Dwimas Sasongko mengemas perbedaan agama yang sangat mencolok pada awalnya, dan meleburkan batas perbedaan di separuh akhir cerita. Pelatih yang muslim dan asistennya yang Katolik, para anggota kesebelasan yang bercampur agamanya, dukungan Bapak Pendeta dari Passo yang membawa kolekte umat gereja untuk tambahan dana tim U-15 Maluku jauh-jauh ke Tulehu, berbaurnya warga yang nonbar di berbagai tempat, hingga siaran langsung final via telepon dari Jakarta yang diumumkan lewat pengeras suara masjid dan gereja. Bagi yang tidak tahu kalau ini adalah kisah nyata; tentu sudah dapat ditebak kalau tim sepak bola U-15 Maluku akan menjadi juara sebagai klimaksnya.
Cukup banyak adegan yang menyentuh hubungan dua manusia; Sani dan Hapsa (Shafira Umm) isterinya, saling menguatkan dikala susah; Jago dan ayahnya; Salim a.k.a Salembe dan ibunya; Alvin dan Mama (Jajang C. Noer); Sani dan Rafi, sahabat pelatih sepak bola, Sani dan Sufyan (Glenn Fredly) yang menyemangati dengan sebaris kata "Kase satu ingatan manis, setelah semua yang pahit, Sani.."
Hingga scene unik; betapa nakalnya Salembe di sekolah, Sani berenang di lautan untuk menenangkan diri, ajakan orang kampung untuk mengajak Sani terlibat rusuh, sepatu bola baru untuk Jago dari ayahnya, gunjingan masyarakat tentang Sani, yangditanggapi, "Ada orang yang bajaga kampung, ada jua yang jaga anak-anak." ungkap Mama Alvin pemilik warung kopi di dekat dermaga.
Ole sioo, beta trus inga par warung kopi Sibu-Sibu jua ee...
Betapa perbedaan agama yang sempat mengacaukan Ambon, dibiaskan pula pada pemilihan casting; Sani/muslim yang diperankan Chicco Jericko/kristen, Yosef/Katolik yang diperankan Abdurrahman Arif/muslim. Terjalinnya kembali tali silaturahmi antara Islam dan Kristen, terwujud dalam satu kata; Maluku.
Tentu sebagai legalitas bahwa ini adalah kisah nyata, pada credit title ditampilkan foto dan kisah para pelaku sejarah; Kejuaraan U-15 Medco 2006, Sani, Sufyan, Alvin, dan lainnya; termasuk penghormatan bagi Bapa Raja Negeri Tulehu almarhum.
Dangke banya par Bapa Gita Wirjawan & Bapa Arifin Panigoro su boleh jadi Executive Producer; Bung Glenn Fredly, Bung Angga Dwimas Sasongko, Bung Ikhsan Tualeka su jadi Producer dan Co-Pruducer; Swastika Nohara dan M. Irfan Ramly su batulis cirita, tentu samua Team Visinema Pictures jua tra lupa beta ucap terima kasih.
Dari beta pung tertawa sampe beta pung airmata yang malele, suasana pantai dan wajah-wajah lugu masyarakat Tulehu-Passo, dangke banya jua su kase inga beta menyanyi "Buka Pintu" dengan iringan ukulele katong pung antua di pinggir pantai.
Semoga katong samua boleh dapa pesan perdamaian yang dong bawa, "...beking hidup lebe bae"
Yogyakarta, 28 Juni 2014
Showing posts with label Motivational. Show all posts
Showing posts with label Motivational. Show all posts
28 June 2014
25 April 2014
Angsa Jantan Kepada Angsa Betina
Dii terik siang itu.. banyaklah pasangan yang datang
Sekedar berteduh atau mencari makan di danau
Para unggas, yang entah bagaimana caranya, dalam keramaian tak terpisahkan dan tak tertukarkan
Saling berpagutan, berdampingan
Ingatkah kau kala itu?
Ketika kita sering mampir di danau itu?
(07/12/2009 13.00)
13 December 2012
Litani Kecil Petarung Waktu
Bapa Maha Welas Asih, kasihanilah kami
Putra Maha Dermawan, kasihanilah kami
Roh Maha Cinta, kasihanilah kami
Dalam gulita malam, lindungilah kami
Ketika fajar menyingsing, terangilah kami
Kala pagi tiba, semangatilah kami
Sesaat menjelang siang, bimbinglah kami
Tatkala surya diujung kepala, teduhkanlah kami
Sang Baskara bergulir ke barat, selamatkanlah kami
Sore tiba tanpa pesan, kawanilah kami
Saat senja mulai datang, awasilah kami
Malam menjelang, sertailah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, sayangilah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, kuatkanlah kami
Engkau yang menghapus dosa dunai, teguhkanlah kami
Aku tahu Engkau ada, memberi udara tak terhingga disetiap rongga napasku dan deras darahku.
Amin.
Putra Maha Dermawan, kasihanilah kami
Roh Maha Cinta, kasihanilah kami
Dalam gulita malam, lindungilah kami
Ketika fajar menyingsing, terangilah kami
Kala pagi tiba, semangatilah kami
Sesaat menjelang siang, bimbinglah kami
Tatkala surya diujung kepala, teduhkanlah kami
Sang Baskara bergulir ke barat, selamatkanlah kami
Sore tiba tanpa pesan, kawanilah kami
Saat senja mulai datang, awasilah kami
Malam menjelang, sertailah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, sayangilah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, kuatkanlah kami
Engkau yang menghapus dosa dunai, teguhkanlah kami
Aku tahu Engkau ada, memberi udara tak terhingga disetiap rongga napasku dan deras darahku.
Amin.
21 January 2009
Berteriaklah..!!
Lepaskanlah..
Serukanlah..
Biarkan dunia mendengar suaramu..
Jadikan alam sebagai saksi..
(Ignatio 0109)
Serukanlah..
Biarkan dunia mendengar suaramu..
Jadikan alam sebagai saksi..
(Ignatio 0109)
Ketika sesak meliputi dada, biasanya orang akan berteriak. Entah sebagai pelepas sesak dada, atau pelepas beban pikiran dan bathin. Apa mau dikata, curhat tiada guna, [hanya] diberi petuah dan arahan serta petunjuk yang [sudah pasti] semakin menyesakkan dada dan beban pikiran.
Mau? Mau? Mau? Coba saja... HHHAAAAAAAAHHHH!!!! Teman masa kuliah dulu, Antonius Heri, sering sekali berteriak, "LUSIII...!!!" hanya karena kangen sama pacarnya. Begitupun Maria Mokolomban, pernah sekali waktu memintaku untuk mengantarnya dari Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman ke Parngtritis, Bantul sana, hanya agar bisa teriak-teriak dengan bebasnya di alam terbuka. Pun beberapa orang khusus datang ke Gardu Pandang di Kaliurang, Yogyakarta, hanya untuk berteriak.. [kebanyakan sedang latihan teater..]
HHUUUHHH.... HHHAAAAAAHHHH!!!!Maaf, saya keliru, ternyata tidak hanya sebagai pelepas sesak di dada, juga sebagai sarana pelepas rindu, latihan olah suara dan artikulasi, juga sekedar having fun, bisa di alam terbuka, bisa pula di dalam discotheque. Belum lagi teriakan dan seruan-seruan di dalam barak militer, arena balap kuda, sabung ayam, tinju, hingga panggung kampanye dan panggung hiburan. [kalo panggung kampanye; MAANNAAA...AMMPLOOOPP...??; kalo di panggung hiburan; AAAIIIIRRRRR....AAIIIRRR...!! ]
By the way, kalau soal kesenangan dibawa-bawa, tidak ada masalah, selama ketika teriakan-teriakan itu terujar tidak ada orang disekitar kita; mending kalau hanya dirasa mengganggu daripada dianggap kurang waras. Sebetulnya ada cara lain menyatakan teriak sebagai komoditi, ikut kontes teriak [ach... yang bener..??]. Ketika Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda 2008 [tanggal berapa hayoo...?!] sebuah acara juga digelar di Global Village, Dubai; kontes teriak!! Ada sekitar 14 kategori dengan acuan utamanya; Berteriak, Berseru, Bertepuk Tangan, dan Bersiul. So pasti banyak peminatnya, hingga mengundang Guinness Book of Record untuk dicatatkan. YYAAALLLLAAAA.....YAAALLLAAAAA...!!
Marilah kita berteriak...!! Serukan kemenangan kita; atas rasa minder tak ingin berteriak.... HHIIIIYYYAAAAAAA...!!!
08 January 2009
G.O.L.F
Once upon a time... [mirip cerita HC Andersen..] there life a beautiful young lady in the forest whom being greet by the undercover prince.. [tuh kan... jadi dongeng....]
Sekali waktu peristiwa [awas.. mulai lagi..], kami kedatangan tamu, sebut saja tuan Alfa, yang ingin bisa bermain golf. Dengan penuh keyakinan, tuan Alfa bersikukuh harus bisa menguasai permainan golf dalam waktu dua minggu..!! Sebuah keputusan dan goal-setting yang cukup gila menurutku. Bagaimana tidak, rata-rata orang awam yang baru mulai bermain golf baru siap setelah [setidaknya] satu bulan, itupun selama empat kali seminggu, setiap latihan menghabiskan sampai 500 bola di driving range setiap latihan, dan mencatat segala sesuatu tentang grip, swing dan semuanya secara saksama.
Lha yang ini, kok yo nekad, mau pintar dalam waktu dua minggu..
Ternyata semua peralatannya tuan Alfa telah siap, Driver 10,5° merk ternama, Wood 3&5 hingga Rescue, Iron set dengan blade yang full mengkilat, Putter futuristik yang katanya dibeli seharga kamera digital prosumer, Golf Bag yang harganya setara satu sepeda motor produksi China, Golf Shoes seharga tidak lebih murah dari putter. Belum lagi utilities lainnya; Tee [konon dari jenis sekali pakai], Ball [sebuah sama dengan flashdisk 512Mb. harganya], Ball Marker [bonus dari topi yang pet-nya ber-magnet], T-Shirt senilai DVD Player, Topi dengan merk terkenal yang bernuansa golf; Titleist, Callaway, Mizuno, Jack Nicklaus, Nike TW, Lynx, Mc.Gregor, Nickent hingga Beres [swear..!! ini merk peralatan golf, bukan sekedar; "Beres, Boss..."].
Tak ketinggalan; sun-screen dengan SPF.50 termasuk satu perangkat GPS tercanggih. Waw...!!! Luar biasa..!!!
Di satu sisi, seseorang lainnya, kita sapa beliau pak Bravo, hanya memiliki Iron-7, Pitching 56° dan Putter. Glove yang dipakai juga bukan dari jenis sekali pakai langsung buang, bersepatukan keds biasa dan berkaos seadanya, jenis kaos berkerah yang mudah ditemui di dalam keranjang-keranjang obralan swalayan besar.
"Kayaknya saya belum bisa main ke lapangan, Mas." ujar beliau suatu ketika. "Mukulku masih jelek." Betapa bijaknya, mengingat beliau pak Bravo sudah habis berbulan-bulan berlatih golf dengan tekun. Kapan dong mainnya..??
Kita mungkin [dan hampir 90%] salah satu dari mereka, atau pula kombinasi unik dari keduanya. Tuan Alfa, siap dengan segala peralatan tercanggihnya, tapi yang namanya golf [dan kehidupan itu sendiri] adalah permainan yang mengandalkan hati. Tak bisa di target sebagaimana rupa untuk dicapai pada kurun waktu tertentu, meski telah siap segala peralatannya..
Bapak Bravo secara mental mungkin lebih siap [setidaknya begitu perasaanku padanya... taela..] hanya karena peralatan yang kurang beliau merasa masih jelek.
Mungkinkah keduanya disatukan? Mental yang siap dengan peralatan yang mutakhir. Atau peralatan yang minim dan bertambah seiring dengan semakin dewasanya penguasaan mental seseorang. Yang pasti, tak ada yang mampu mencapai kesempurnaan, selain Tuhan Yang Mahaesa, Allah Maha Besar, Sang Hyang Widhi...
So, let's pray... semoga tuan Alfa, orang yang serba berlebihan mau berbagi dengan orang yang berkekurangan, dan semoga pak Bravo mau melayani sesamanya, berbagi ilmu dan mentalitas sehat meski dalam keadaan berkekurangan, menguatkan hati sesama..
Tuan Alfa mulai bermain gol sekenanya di padang golf setelah latihan rutin selama tiga bulan, hingga grip putter harus diganti, hingga sun-screen habis sebotol, hingga batteray GPS perlu diganti pula..
Bapak Bravo kini menemani tuan Alfa, berbagi pengetahuan dan saran sambil turut menggunakan peralatan golf tuan Alfa.
GOLF:
Gentleman Only, Ladies Forbidden. [I'm not sure...]
Gender Order, Least Forgotten. [sometime..]
Girls Or Lads, Fairpaly..! [supose..]
Grip On, Look Forward..! [watch-out...]
Sekali waktu peristiwa [awas.. mulai lagi..], kami kedatangan tamu, sebut saja tuan Alfa, yang ingin bisa bermain golf. Dengan penuh keyakinan, tuan Alfa bersikukuh harus bisa menguasai permainan golf dalam waktu dua minggu..!! Sebuah keputusan dan goal-setting yang cukup gila menurutku. Bagaimana tidak, rata-rata orang awam yang baru mulai bermain golf baru siap setelah [setidaknya] satu bulan, itupun selama empat kali seminggu, setiap latihan menghabiskan sampai 500 bola di driving range setiap latihan, dan mencatat segala sesuatu tentang grip, swing dan semuanya secara saksama.
Lha yang ini, kok yo nekad, mau pintar dalam waktu dua minggu..
Ternyata semua peralatannya tuan Alfa telah siap, Driver 10,5° merk ternama, Wood 3&5 hingga Rescue, Iron set dengan blade yang full mengkilat, Putter futuristik yang katanya dibeli seharga kamera digital prosumer, Golf Bag yang harganya setara satu sepeda motor produksi China, Golf Shoes seharga tidak lebih murah dari putter. Belum lagi utilities lainnya; Tee [konon dari jenis sekali pakai], Ball [sebuah sama dengan flashdisk 512Mb. harganya], Ball Marker [bonus dari topi yang pet-nya ber-magnet], T-Shirt senilai DVD Player, Topi dengan merk terkenal yang bernuansa golf; Titleist, Callaway, Mizuno, Jack Nicklaus, Nike TW, Lynx, Mc.Gregor, Nickent hingga Beres [swear..!! ini merk peralatan golf, bukan sekedar; "Beres, Boss..."].
Tak ketinggalan; sun-screen dengan SPF.50 termasuk satu perangkat GPS tercanggih. Waw...!!! Luar biasa..!!!
Di satu sisi, seseorang lainnya, kita sapa beliau pak Bravo, hanya memiliki Iron-7, Pitching 56° dan Putter. Glove yang dipakai juga bukan dari jenis sekali pakai langsung buang, bersepatukan keds biasa dan berkaos seadanya, jenis kaos berkerah yang mudah ditemui di dalam keranjang-keranjang obralan swalayan besar."Kayaknya saya belum bisa main ke lapangan, Mas." ujar beliau suatu ketika. "Mukulku masih jelek." Betapa bijaknya, mengingat beliau pak Bravo sudah habis berbulan-bulan berlatih golf dengan tekun. Kapan dong mainnya..??
Kita mungkin [dan hampir 90%] salah satu dari mereka, atau pula kombinasi unik dari keduanya. Tuan Alfa, siap dengan segala peralatan tercanggihnya, tapi yang namanya golf [dan kehidupan itu sendiri] adalah permainan yang mengandalkan hati. Tak bisa di target sebagaimana rupa untuk dicapai pada kurun waktu tertentu, meski telah siap segala peralatannya..
Bapak Bravo secara mental mungkin lebih siap [setidaknya begitu perasaanku padanya... taela..] hanya karena peralatan yang kurang beliau merasa masih jelek.
Mungkinkah keduanya disatukan? Mental yang siap dengan peralatan yang mutakhir. Atau peralatan yang minim dan bertambah seiring dengan semakin dewasanya penguasaan mental seseorang. Yang pasti, tak ada yang mampu mencapai kesempurnaan, selain Tuhan Yang Mahaesa, Allah Maha Besar, Sang Hyang Widhi...
So, let's pray... semoga tuan Alfa, orang yang serba berlebihan mau berbagi dengan orang yang berkekurangan, dan semoga pak Bravo mau melayani sesamanya, berbagi ilmu dan mentalitas sehat meski dalam keadaan berkekurangan, menguatkan hati sesama..
EPILOGUE:
Tuan Alfa mulai bermain gol sekenanya di padang golf setelah latihan rutin selama tiga bulan, hingga grip putter harus diganti, hingga sun-screen habis sebotol, hingga batteray GPS perlu diganti pula..
Bapak Bravo kini menemani tuan Alfa, berbagi pengetahuan dan saran sambil turut menggunakan peralatan golf tuan Alfa.
GOLF:
Gentleman Only, Ladies Forbidden. [I'm not sure...]
Gender Order, Least Forgotten. [sometime..]
Girls Or Lads, Fairpaly..! [supose..]
Grip On, Look Forward..! [watch-out...]
24 December 2008
Kotbah Malam Natal
Semoga diantara kita pernah menikmati suasana ibadah yang sama sekali berbeda dengan suasana yang biasa kita rasakan. Maksud saya di pedesaan..
Terbiasa dengan suasana hingar-bingar, hiruk-pikuk, gembar-gembor; dan kini "menikmati" suasana nan sejuk ayem tentrem, gemah ripah, dicokoti lêmut barang..
Bukannya membedakan secara signifikan keadaan gedung gereja di kota dan di desa (kebetulan kami sekeluarga biasa mengikuti Misa di Kotabaru & Kemetiran; Malam Natal kali ini di pelosok Sleman sana, stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, keuskupan agung Semarang) Di mana pun gedung gerejanya, bagaimanapun keadaan lingkungannya, selama pernyataan "sudah kami arahkan.. sudah layak dan sepantasnya" telah berkumandang di bibir, perayaan Misa harus dituntaskan hingga paripurna.
Bukan salah Pastor; bukan pula salah panitia maupun umat yang hadir bila kemudian isi kotbah menjadi "hingar-bingar" tidak karu-karuan. Bagaimana tidak "hiruk-pikuk"; Global Warming, naik-turunnya harga minyak dunia, nakalnya anggota DPR yang terhormat, sepak terjang KPK, disampaikan dalam kotbah Malam Natal yang nota-bene para umatnya sebatas lingkup stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, pelosok Sleman.
Maaf. Tanpa mengecilkan arti kehadiran para umat terkasih dalam Yesus Kristus, pun tanpa mempersempit pandangan terhadap Pastor, materi kotbah semacam itu sudah sering kami lahap di televisi, koran, dan OnLine News. Sudah kenyang..
Mana anak-anak pada berlarian, orang tua pada ngegossip, panitia pun tak kalah; sibuk wira-wiri dengan dalih melayani keperluan petugas keamanan (lho, bukannya umat yang harus dilayani??)
Deus Caritas Est; ada satu sisipan cerita di kotbah yang "layak" masuk hitungan; Suatu hari, pasangan petani miskin kedatangan tamu dari jauh. Karena mereka berbelas kasihan, ditawarilah tamu itu intuk makan & minum, hingga menginap bila perlu. Tentu semua itu dilakukan dengan keikhlasan yang luar biasa, mengingat mereka juga dalam keadaan serba kekurangan.
Tiba saatnya bagi si tamu untuk pergi; sambil bersiap membuka bungkusan, tamu tersebut mengungkapkan jati dirinya kalau dia adalah Putera Mahkota kerajaan, seraya menawarkan balas jasa apa yang diinginkan pasangan petani miskin itu.
"Pangeran, dengan hadirnya Pangeran di tempat kami yang hina ini sudah merupakan hadiah terindah bagi kami." Petani menjawab dengan takzim...
Fellows, apakah kita siap menjadi "petani miskin", bersyukur demi kesempatan yang indah, ataukah kita akan meminta imbalan balas jasa..??
Terbiasa dengan suasana hingar-bingar, hiruk-pikuk, gembar-gembor; dan kini "menikmati" suasana nan sejuk ayem tentrem, gemah ripah, dicokoti lêmut barang..
Bukannya membedakan secara signifikan keadaan gedung gereja di kota dan di desa (kebetulan kami sekeluarga biasa mengikuti Misa di Kotabaru & Kemetiran; Malam Natal kali ini di pelosok Sleman sana, stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, keuskupan agung Semarang) Di mana pun gedung gerejanya, bagaimanapun keadaan lingkungannya, selama pernyataan "sudah kami arahkan.. sudah layak dan sepantasnya" telah berkumandang di bibir, perayaan Misa harus dituntaskan hingga paripurna.
Bukan salah Pastor; bukan pula salah panitia maupun umat yang hadir bila kemudian isi kotbah menjadi "hingar-bingar" tidak karu-karuan. Bagaimana tidak "hiruk-pikuk"; Global Warming, naik-turunnya harga minyak dunia, nakalnya anggota DPR yang terhormat, sepak terjang KPK, disampaikan dalam kotbah Malam Natal yang nota-bene para umatnya sebatas lingkup stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, pelosok Sleman.
Maaf. Tanpa mengecilkan arti kehadiran para umat terkasih dalam Yesus Kristus, pun tanpa mempersempit pandangan terhadap Pastor, materi kotbah semacam itu sudah sering kami lahap di televisi, koran, dan OnLine News. Sudah kenyang..
Mana anak-anak pada berlarian, orang tua pada ngegossip, panitia pun tak kalah; sibuk wira-wiri dengan dalih melayani keperluan petugas keamanan (lho, bukannya umat yang harus dilayani??)
Deus Caritas Est; ada satu sisipan cerita di kotbah yang "layak" masuk hitungan; Suatu hari, pasangan petani miskin kedatangan tamu dari jauh. Karena mereka berbelas kasihan, ditawarilah tamu itu intuk makan & minum, hingga menginap bila perlu. Tentu semua itu dilakukan dengan keikhlasan yang luar biasa, mengingat mereka juga dalam keadaan serba kekurangan.
Tiba saatnya bagi si tamu untuk pergi; sambil bersiap membuka bungkusan, tamu tersebut mengungkapkan jati dirinya kalau dia adalah Putera Mahkota kerajaan, seraya menawarkan balas jasa apa yang diinginkan pasangan petani miskin itu.
"Pangeran, dengan hadirnya Pangeran di tempat kami yang hina ini sudah merupakan hadiah terindah bagi kami." Petani menjawab dengan takzim...
Fellows, apakah kita siap menjadi "petani miskin", bersyukur demi kesempatan yang indah, ataukah kita akan meminta imbalan balas jasa..??
Sadar Hukum
Salah satu cerita kesukaan Ronald Reagan, mantan presiden US, adalah kisah kecelakaan mobil yang dikendarai oleh seorang pengacara versus mobil yang disopiri oleh seorang petani.
Seketika tabrakan terjadi, si petani segera mengambil sebotol rhum yang ada di kotak makannya,dan bergegas menemui si pengacara yang terkapar di mobilnya.
"Pak anda tampak pucat. Teguklah sedikit rhum ini, untuk menghilangkan kegelisahan Bapak." Saran petani. Sang pengacara minum beberap tegukan.
"Wah, Bapak masih kelihatan pucat dan tegang. Minumlah lagi." Tawar si petani lagi.
Pengacara tersebut kembali meminumnya, dan kemudian merasa lega, seolah lepas beban di pundaknya. Khawatir dianggap tidak sopan, si pengacara menawarkan petani untuk bersama-sama menikmati rhum.
"Maaf, Pak. Kemarin dulu saya sudah mencicipi, lagipula saya tidak memerlukannya saat ini. Karena saya sedang menunggu tibanya polisi lalu lintas." Jawab petani mantap.
Di kejauhan, terdengar suara sirine mobil patroli Polantas, dan semakin mendekat...
(Y. Sumantri Hp. SJ, Angin Barat Angin Timur, 1996, ISBN: 979-497-707-1)
HIKMAH: Bawalah juga sebotol rhum atau whisky sebagai pelengkat SIM & STNK
Seketika tabrakan terjadi, si petani segera mengambil sebotol rhum yang ada di kotak makannya,dan bergegas menemui si pengacara yang terkapar di mobilnya.
"Pak anda tampak pucat. Teguklah sedikit rhum ini, untuk menghilangkan kegelisahan Bapak." Saran petani. Sang pengacara minum beberap tegukan.
"Wah, Bapak masih kelihatan pucat dan tegang. Minumlah lagi." Tawar si petani lagi.
Pengacara tersebut kembali meminumnya, dan kemudian merasa lega, seolah lepas beban di pundaknya. Khawatir dianggap tidak sopan, si pengacara menawarkan petani untuk bersama-sama menikmati rhum.
"Maaf, Pak. Kemarin dulu saya sudah mencicipi, lagipula saya tidak memerlukannya saat ini. Karena saya sedang menunggu tibanya polisi lalu lintas." Jawab petani mantap.
Di kejauhan, terdengar suara sirine mobil patroli Polantas, dan semakin mendekat...
(Y. Sumantri Hp. SJ, Angin Barat Angin Timur, 1996, ISBN: 979-497-707-1)
HIKMAH: Bawalah juga sebotol rhum atau whisky sebagai pelengkat SIM & STNK
Peace Bearer's Pray
Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian; entah kepada sesama, kawan maupun lawanku,
Jadikanlah aku pembawa cintakasih; tanpa pamrih, tanpa batas.
Bila terjadi penghinaan; terhadap ciptaanMu,
Jadikanlah aku pembawa pengampunan; tanpa syarat.
Bila terjadi perselisihan; baik pikiran, perkataan maupun perbuatan,
Jadikanlah aku pembawa kerukunan; secara sengaja, secara sadar.
Bila terjadi kebimbangan; sebuah keputusan maupun beberapa pertimbangan,
Jadikanlah aku pembawa kepastian; menyuarakan keyakinan.
Bila terjadi kesesatan; arah pikiran dan akal budi,
Jadikanlah aku pembawa kebenaran; meski tak sejati, sebagaimana diriMu.
Bila terjadi kecemasan; akan hari ini, hari esok, hingga lusa nanti,
Jadikanlah aku pembawa harapan; semangat dan dukungan.
Bila terjadi kesedihan; tanpa secuilpun kesukaan di sana,
Jadikanlah aku sumber kegembiraan; penuh keceriaan dalam suka.
Bila terjadi kegelapan; di atas bumi maupun di dalam hati,
Jadikanlah aku pembawa terang; dari haribaan para Kudus.
Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai; melayani tanpa minta dilayani, menyentuh penuh cinta tanpa minta disentuh, menghadirkan saat-saat berkesan tanpa minta disediakan waktu khusus.Bila terjadi kebencian; entah kepada sesama, kawan maupun lawanku,
Jadikanlah aku pembawa cintakasih; tanpa pamrih, tanpa batas.
Bila terjadi penghinaan; terhadap ciptaanMu,
Jadikanlah aku pembawa pengampunan; tanpa syarat.
Bila terjadi perselisihan; baik pikiran, perkataan maupun perbuatan,
Jadikanlah aku pembawa kerukunan; secara sengaja, secara sadar.
Bila terjadi kebimbangan; sebuah keputusan maupun beberapa pertimbangan,
Jadikanlah aku pembawa kepastian; menyuarakan keyakinan.
Bila terjadi kesesatan; arah pikiran dan akal budi,
Jadikanlah aku pembawa kebenaran; meski tak sejati, sebagaimana diriMu.
Bila terjadi kecemasan; akan hari ini, hari esok, hingga lusa nanti,
Jadikanlah aku pembawa harapan; semangat dan dukungan.
Bila terjadi kesedihan; tanpa secuilpun kesukaan di sana,
Jadikanlah aku sumber kegembiraan; penuh keceriaan dalam suka.
Bila terjadi kegelapan; di atas bumi maupun di dalam hati,
Jadikanlah aku pembawa terang; dari haribaan para Kudus.
Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni, dengan mati suci kami bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya; berkarya sebagai alatMu, bertunas selayaknya benihMu, berbuah demi kemuliaanMu.
Amin.
“qui manducat meam carnem et bibit meum sanguinem in me manet et ego in illo” Giovanni.6:56
(taken from Madah Bhakti)
H.O.P.E.
Seyegan, 05 November 2008 jam 10:06
Beribu kata yang mampir di kepalaku pagi ini. Tanda-tanda kemenangan Barrack Obama, putusnya Prince Zuko dengan pacarnya, kecelakaan bis di India, kasus pelecehan dosen UI (Mr. TN) terhadap mahasiswi; termasuk telepon dari seseorang yang mengaku mengenalku meski tak kukenal, Melati (disamarkan demi privacy yang bersangkutan-Red.).
Hallo, ini benar Farano? (ada keraguan di sana) Aku Melati. (sambil terbata-bata)
Ini Farano yang dulu di AMPTA khan? (penuh tanya, penuh bimbang)Beribu kata yang mampir di kepalaku pagi ini. Tanda-tanda kemenangan Barrack Obama, putusnya Prince Zuko dengan pacarnya, kecelakaan bis di India, kasus pelecehan dosen UI (Mr. TN) terhadap mahasiswi; termasuk telepon dari seseorang yang mengaku mengenalku meski tak kukenal, Melati (disamarkan demi privacy yang bersangkutan-Red.).
Hallo, ini benar Farano? (ada keraguan di sana) Aku Melati. (sambil terbata-bata)
Kamu pasti gak ingat lagi siapa aku. Aku seangkatan sama kamu. Aku ingat kamu kok. (memberi penegasan penuh harap)
Aku butuh bantuanmu. Di tempat kerjamu ada lowongan, nggak? Aku sudah pernah melamar di Radisson tapi nggak ada jawaban. (sudah lebih tenang, rupanya)
Oh iya, betul, Jogjakarta Plaza. Tahun 2001 sih. (lama bener.?? Sampé ganti nama..)
Dulu pernah sih jadi casual di Ambarrukmo, tapi ya itu, bubar. Aku waitress gitu, di Coffee-Shop. (here come the reference)
Aku pernah ke kampus, trus ketemu Jacky, ingat khan yang tinggi itu? Dia khan jadi staff kampus sekarang. Kata dia coba tanya Farano, biasanya banyak lowongan dia tahu. (grrr..how dare you, Jacky.!!) Pak Santosa juga bilang, coba ke Farano, pasti mau bantu. (OMG, OMG, OMG...) ... ... ...
Terkadang ketika kita merasa hopeless, terbersit sesuatu di benak yang menyemangati. Di kala kita sedang merasa useless, hadir sebuah fragmen di balik jendela mobil dan kaca spion motor kita, betapa kerasnya perjuangan tukang becak, tukang sol sepatu, tukang payung dan para tuan tukang lainnya membuktikan betapa bergunanya mereka. Sewaktu kita merasa sebagai “orang termiskin di dunia”, terdengan khabar bahwa masih ada orang yang hidup secara nomaden di tengah kota besar, menumpang di tempat kumuh, dan mampu membuktikan bila ia berguna bagi sesama dan hidup dengan harapan menggunung, penuh semangat.
“Wang sinawang..” masih berlaku.
Melati datang pagi ini di telingaku, merasuk hingga kedalam otakku, mengusik sanubariku, menggoyahkan hati nuraniku. Sesuatu harus kuperbuat, demi kepercayaan Pak Santosa (dosen, Dekan) terhadapku, demi keyakinan Jacky (staff kampus, teman kuliah) terhadapku, demi pengharapan Melati yang besar terhadapku.
Masih banyak Melati, Dahlia, Cempaka, Kamboja, Jati, Sonokeling, Mahoni dan Trembesi yang harus dibantu. Meski hanya sedikit keterangan dan harap bagi mereka, tentu juga doa yang berlimpah bagi mereka.
Melati telah empat hari mencariku, tanpa lelah, terus berusaha, mencoba segala cara..
--- --- ---
hope n, 1. harapan; kepercayaan; keyakinan. 2. penyebab dari harapan; pengharapan; orang, dsb yg diharapkan. v.t. & i. mengharap(kan); berharap: to ~ for something mengharap(kan) sesuatu. ~ful adj. berharap; memberi harapan. ~fully adv. dng penuh harapan. ~less adj. tidak ada harapan; tidak memberikan harapan.
(Kamus Inggris – Indonesia, Oxford University Press, ISBN 0-19-581609-9)
H.O.P.E. : Help Others, Peace Emerge. (Ignatio, 1108)
T.E.A.M.
Ketika dirimu tak lagi mampu berbuat sesuatu, diam sajalah, tak perlu kau ikut berbicara.
Nikmatilah hasil karya orang lain, bisa sahabatmu, mungkin pula pesaingmu.
Jadilah penonton yang setia, tanpa perlu memberikan komentar tak guna.
Bila engkau tak berkenan, berbuatlah sesuatu, jangan diam saja.."
(Ignatio, 1008)
What do we know about team?
Some say, work hard, play hard, together. Others thought, one for all, and all for one. Else would decide, one boss many sub-ordinate within one mission to reach same vision. Whatever...
It would be dificult when we apply same standard upon different teams. Since the mission itself would not through the same direction so does their visions are far from others destination. Yet, people always find the best man for their team, the tough-smart-perfect-strong-confindenced-good-obey person. Always at the same character. What an utopia.
Have you ever read about Shogun? They’re all good men, taking care their subordinate, keep their heir in the right vision, maintain their territory, guard their border closely, and of course, train their soldier at the scheduled time, more often when about to strike or conquer other territories. Shogun’s soldiers are; Lance-man, Sword-man, Arrow-man, Cavalry-man, Scouts and domestic servant; guard, butler, artist, cook, housekeeper. (Early Japan, Jonathan N. Leonard, 1979)
Every unit has a special duty, due to their speciality, Lance will hold horses approach, Sword/Samurai & Katana usefull in close fight, Arrow might hit the far targets, Cavalry as “big-hitter” to end the battle, and so on..
Anyway, team will always be a team, when it falling down on certain team member’s interest, we might say they are not in a team anymore. For me, team suppose became TEAM-TEAM, not just team.
To Enhanced Approriate Measure - Top-End All Manage.
Nikmatilah hasil karya orang lain, bisa sahabatmu, mungkin pula pesaingmu.
Jadilah penonton yang setia, tanpa perlu memberikan komentar tak guna.
Bila engkau tak berkenan, berbuatlah sesuatu, jangan diam saja.."
(Ignatio, 1008)
What do we know about team?
Some say, work hard, play hard, together. Others thought, one for all, and all for one. Else would decide, one boss many sub-ordinate within one mission to reach same vision. Whatever...
It would be dificult when we apply same standard upon different teams. Since the mission itself would not through the same direction so does their visions are far from others destination. Yet, people always find the best man for their team, the tough-smart-perfect-strong-confindenced-good-obey person. Always at the same character. What an utopia.
Have you ever read about Shogun? They’re all good men, taking care their subordinate, keep their heir in the right vision, maintain their territory, guard their border closely, and of course, train their soldier at the scheduled time, more often when about to strike or conquer other territories. Shogun’s soldiers are; Lance-man, Sword-man, Arrow-man, Cavalry-man, Scouts and domestic servant; guard, butler, artist, cook, housekeeper. (Early Japan, Jonathan N. Leonard, 1979)
Every unit has a special duty, due to their speciality, Lance will hold horses approach, Sword/Samurai & Katana usefull in close fight, Arrow might hit the far targets, Cavalry as “big-hitter” to end the battle, and so on..
Anyway, team will always be a team, when it falling down on certain team member’s interest, we might say they are not in a team anymore. For me, team suppose became TEAM-TEAM, not just team.
To Enhanced Approriate Measure - Top-End All Manage.
Subscribe to:
Posts (Atom)
