Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

14 April 2015

Mary Jane Fiesta Veloso

Sahabat,
Sebelum saya berbagi kisah, sudilah membaca sumber-sumber berita berikut ini:

 Di akhir misa Minggu Kerahiman Ilahi, seminggu setelah Paskah, di Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosaria Suci Randusari Katedral Semarang, rama Pastur mengajak umat mendoakan para terpidana mati; baik yang masih di dalam persidangan, maupun yang sudah akan menjelang eksekusi. Dimanapun mereka.
Sepenggal kisah ditautkan di dalam buku panduan misa kali itu;

Mary Jane Fiesta Veloso, orang Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak sekolah dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia.
Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane dengan sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu.
Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bohong. Namun pengadilan di Indonesia mempidana ibu Mary Jane dengan hukuman mati.
Kini permintaan untuk peninjauan kembali telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpidana mati yang di Bali, Mary Jane menghadapi eksekusi.

Sebuah cerita yang sangat mengusik perhatianku. Bukan karena cerita itu ada di dalam teks panduan misa, melainkan betapa pintu bathinku diketuk olehNYA, "Hooii Farano, tahukah kau, banyak orang yang kini sudah tahu kapan akan menghadapi kematian?? Bagaimana denganmu?"
Terlepas dari segala tuduhan dan kesalahan, kenapa harus hukuman mati?Tidak adakah hukuman lain yang lebih manusiawi; kerja fisik, misalnya. Atau hukuman kerja sosial, misalnya. Atau sekedar dipenjara, misalnya.
Adakah?Rama Pastur berpesan; Gereja bukan membela kejahatan seseorang, tetapi menghargai arti kehidupan umat manusia.
Betapa semboyan yang masih kusimpan di dalam hati ingin kuserukan, Berani hidup dan tidak takut mati.

Agnus Dei qui tolis pecata mundi miserere nobis
Agnus Dei qui tolis pecata mundi miserere nobis
Agnus Dei qui tolis pecata mundi dona nobis pacem

[Semarang, 14 April 2015]

13 December 2012

Litani Kecil Petarung Waktu

Bapa Maha Welas Asih, kasihanilah kami
Putra Maha Dermawan, kasihanilah kami
Roh Maha Cinta, kasihanilah kami

Dalam gulita malam, lindungilah kami
Ketika fajar menyingsing, terangilah kami
Kala pagi tiba, semangatilah kami

Sesaat menjelang siang, bimbinglah kami
Tatkala surya diujung kepala, teduhkanlah kami
Sang Baskara bergulir ke barat, selamatkanlah kami

Sore tiba tanpa pesan, kawanilah kami
Saat senja mulai datang, awasilah kami
Malam menjelang, sertailah kami

Engkau yang menghapus dosa dunia, sayangilah kami
Engkau yang menghapus dosa dunia, kuatkanlah kami
Engkau yang menghapus dosa dunai, teguhkanlah kami

Aku tahu Engkau ada, memberi udara tak terhingga disetiap rongga napasku dan deras darahku.
Amin.

30 December 2008

C.O.U.R.A.G.E

Kami berbaris, merapatkan jiwa nan miris..
Kami berseru lantang, menantang..
Kami adalah satu,tak terkekang waktu..
Kami berani..
(Ignatio 1208)


Bagi sebagian orang, khususnya para gadis, agak-agak jijjayy kalau harus memegang kodok & katak (tau khan bedanya??). Sudah empuk, agak basah, kotor, dan terkadang pipis sembarangan meski tak kebelet. (jadi inget Papa T. Bob; "Kebelet Pipis")
Lain halnya dengan Yohannes Theofilus Bhré Sukma Jayanagari (siapa lagi kalau bukan anakku terkasih). Selalu bangga dengan shio-nya Ular-Besi, bukannya zodiak.. (awalnya bingung antara Cancer atau Leo, akhirnya Bhré sendiri yang memutuskan untuk memilih Cancer).

"Romo, aku khan Ular-Besi, tidak suka belajar hanya maunya bermain terus."
"Bunda, Ular-Besi itu selalu jadi perhatian loh.."
"Romo, liat nih, Ular-Besi gitu loh.. tuh cewek sukanya ngeliatin aku terus.."
Butuh keberanian... untuk berucap semacam itu..

Keberanian yang jarang ada. Keberanian yang sering dilarang.
Tanpa disadari, kekangan yang dilakukan oleh sesiapa saja, biasanya seseorang atau lembaga yang merasa lebih kuat, dapat berbalik "menyerang" si pengekang. Pun segala larangan yang diberlakukan, justru menjadi steroid bagi orang-orang yang merasa dilarang melakukan sesuatu.
Berani tak dapat dipakai sebagai pembuktian semata, ketabahan juga perlu. Berani berjuang, tapi tidak tabah, hanya mengeluh dan menyalahkan, sama saja dengan penakut. Apalagi hanya bisa mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, tanpa memiliki kebranian berbuat sesuatu. Pecundang...

Berani hidup dan tidak takut mati..!!

========================

courage n. keberanian; ketabahan. courageous adj. berani; tabah.
(Kamus Inggris-Indonesia, Oxford University Press)

27 December 2008

What a traffic!!

Kemacetan lalu lintas bukan hal yang aneh lagi bagi kota besar, maupun kota wisata pada musim liburan begini. Begitupun Yogyakarta. Lalu lintas yang sudah dijaga kewibawaannya oleh para Polantas (salut buat mereka... sudah bisa menahan diri tidak main tilang sekenanya..), menjadi semrawut karena terjangan kendaraan dari luar kota Yogyakarta, yang notabene bersopirkan orang nan bertingkah gumun sok menangan lan grusa-grusu..

Bunda Wikan, begitu anakku menyapanya, berkali-kali mensyukuri keputusan kita untuk menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi. "Dhuh.. enaknya naik sepeda motor.." selalu terdengar dari mulutnya bila kita berhasil melewati serombongan sepeda jengki yang selalu berbaris kesamping memenuhi jalanan, atau melampaui sebaris mobil di lampu bangjo, dan tentu saja ketika sepeda motor yang kami tunggangi berhasil meliuk-liuk di dalam gang kecil atau disela-sela mobil di jalanan.
Serasa jalan milik kita berdua, yang lain hanya numpang lewat..

Lain cerita ketika hujan tiba.. tanpa berani misuh-misuh, cukup meminggirkan sepeda motor kesayangan, mengambil mantel dan jas hujan, sambil menunggu sejenak kalau-kalau hujan akan segera reda. Saling berbagi dengan para peneduh, membuka obrolan bila perlu, siapa tahu bisa berbisnis bersama suatu hari kelak.
Senyaman itukah??

Ketika ada genangan air hujan, beberapa mobil dengan cueknya menerjang hingga menciprati sesiapapun disekelilingnya, tidak mau memberi kesempatan bagi sepeda motor, seolah raja jalanan. Para mobil tersebut terkadng lupa kalau Ali Topan adalah "Raja Jalanan" sesungguhnya, bersepeda motor. Membunyikan klakson bertalu-talu seakan ada keadaan emergency, membiarkan mesin bernyala ketika countdown timer di lampu bangjo masih di atas 30 detik, memberi tanda lampu sein ke kanan, padahal terus, dan masih banyak lagi "dosa" mobil-mobil di jalanan, belum terhitung pula asap knaalpot (awass..!! bagi pemilik mobil diesel, sering-seringlah untuk membawa mobilnya ke bengkel. Peringatan ini berlaku juga bagi para pengendara sepeda motor 2-Tak, asap knaalpot kalian tak hanya membunuh nyamuk demam berdarah, juga membunuh pengguna jalan lainnya.).

Oh My God, I shall take a good care upon others when driving my car, then... please help me..


24 December 2008

Kotbah Malam Natal

Semoga diantara kita pernah menikmati suasana ibadah yang sama sekali berbeda dengan suasana yang biasa kita rasakan. Maksud saya di pedesaan..
Terbiasa dengan suasana hingar-bingar, hiruk-pikuk, gembar-gembor; dan kini "menikmati" suasana nan sejuk ayem tentrem, gemah ripah, dicokoti lêmut barang..

Bukannya membedakan secara signifikan keadaan gedung gereja di kota dan di desa (kebetulan kami sekeluarga biasa mengikuti Misa di Kotabaru & Kemetiran; Malam Natal kali ini di pelosok Sleman sana, stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, keuskupan agung Semarang) Di mana pun gedung gerejanya, bagaimanapun keadaan lingkungannya, selama pernyataan "sudah kami arahkan.. sudah layak dan sepantasnya" telah berkumandang di bibir, perayaan Misa harus dituntaskan hingga paripurna.

Bukan salah Pastor; bukan pula salah panitia maupun umat yang hadir bila kemudian isi kotbah menjadi "hingar-bingar" tidak karu-karuan. Bagaimana tidak "hiruk-pikuk"; Global Warming, naik-turunnya harga minyak dunia, nakalnya anggota DPR yang terhormat, sepak terjang KPK, disampaikan dalam kotbah Malam Natal yang nota-bene para umatnya sebatas lingkup stasi St. Thomas Seyegan, paroki Medari, pelosok Sleman.

Maaf. Tanpa mengecilkan arti kehadiran para umat terkasih dalam Yesus Kristus, pun tanpa mempersempit pandangan terhadap Pastor, materi kotbah semacam itu sudah sering kami lahap di televisi, koran, dan OnLine News. Sudah kenyang..
Mana anak-anak pada berlarian, orang tua pada ngegossip, panitia pun tak kalah; sibuk wira-wiri dengan dalih melayani keperluan petugas keamanan (lho, bukannya umat yang harus dilayani??)

Deus Caritas Est; ada satu sisipan cerita di kotbah yang "layak" masuk hitungan; Suatu hari, pasangan petani miskin kedatangan tamu dari jauh. Karena mereka berbelas kasihan, ditawarilah tamu itu intuk makan & minum, hingga menginap bila perlu. Tentu semua itu dilakukan dengan keikhlasan yang luar biasa, mengingat mereka juga dalam keadaan serba kekurangan.
Tiba saatnya bagi si tamu untuk pergi; sambil bersiap membuka bungkusan, tamu tersebut mengungkapkan jati dirinya kalau dia adalah Putera Mahkota kerajaan, seraya menawarkan balas jasa apa yang diinginkan pasangan petani miskin itu.
"Pangeran, dengan hadirnya Pangeran di tempat kami yang hina ini sudah merupakan hadiah terindah bagi kami." Petani menjawab dengan takzim...

Fellows, apakah kita siap menjadi "petani miskin", bersyukur demi kesempatan yang indah, ataukah kita akan meminta imbalan balas jasa..??

Biggest Provit Shares

Siapakah yang paling banyak meraup untung di masa iburan Natal?

Pengusaha mainan & parcel, penjaja kartu ucapan Natal, produsen jajanan khas Natal, hotel bintang & melati, rumah makan special B1/B2 (please send me message if you're hesitate about), penjual accesories & hiasan Natal, dan banyak lagi... para pemutar roda ekonomi.

Ada satu yang ketinggalan, dan selalu tertinggal... para anak yatim piatu, orang-orang miskin, terlantar dan tersisihkan!!!

Buat apa sampai menghabiskan biaya pesta Natal, kumpul kerabat handai taulan, pesiar ke luar negeri, gembar-gembor mendirikan posko sumbangan Natal, terlibat aktif di gereja sebagai petugas perayaan Natal, berbelanja segala hal yang berkaitan dengan Natal (sampai-sampai replika domba yang bertuliskan "Bet Lehem" pun dibeli dengan harga nan aduhai..), berdandan a'la Santa Claus, Schwarte Piet & para kurcaci, hingga menghiasi rumah dan kantor dengan segala pernik Natal; pohon terang (benderang), gua (hantu?), kandang hewan (piaraan; kucing, anjing, hamster & burung, ginger bread house, et cetera, et cetera...

Lho, eL Ha O, kok Ka O Ka...?? (terjemahannya: "Lho kok?")
Kemana para anak yatim piatu, orang-orang miskin, terlantar dan tersisihkan...??

Mereka mendapatkan "untung" berlipat-lipat, mendapat mainan & parcel, kartu ucapan Natal, jajanan khas Natal, makanan B1/B2 (wis tak kandhani, nék mboten ngertos, kirimen layang marang sliraku..), accesories & hiasan Natal, dan banyak lagi, dari "bahan bakar" roda ekonomi...
Hal-hal yang jarang, bahkan mungkin belum pernah mereka terima.. benar-benar "untung" besarrrr...

Sempatkah kau mendoakan mereka?
(meski itu hanya Amin..)

Meski tak selembar pakaianpun kau hibahkan?
(sementara kita sudah membeli lagi baju yang baru)

Walau sepeser rupiah tak berarti kau sumbangkan?
(sampai-sampai lembaran recehan turut tercuci di kantong celana)

Hingga sesaat waktu berhargamu kau berikan?
(maklum, consultant fee dihitung per-jam)



Sobat, sempatkanlah mendoakan mereka...
para anak yatim piatu, orang-orang miskin, terlantar dan tersisihkan..

Kangen Motret

Seketika kerinduan itu datang..
Merayu-rayu jauh ke dalam sanubari..
Sebagaimana waktu yang terentang..
Mendayu-dayu mengenangkan hari..
(Ignatio 1208)


Nêmbé kêrasa... wis suwé aku ora motréti wong-wong nang dalan, motréti kahanan kutho, motréti kanca-kanca sing pada cengéngésan. Nganthi lali karo pakulinanku dhéwé, photo hunting.
mBiyén, ora ana bosên-bosêné mubeng-mubeng nggoléki apa waé sing bisa dipotréti, ngrumangsani dadi saluran mripat lan nyêritakaké apa-apa waé sing ditemu nang dalan mau; Pak Bécak, mBok Bakul Loompia, Lik Pikul Goni, Mas Juru Parkir, Dhik Lopêr Koran, mBak SPG Toko.
Sapa-sapa waé...

Ngresiki body Yashica FX-2000, ngêlapi lensa Tokina 80-200 sepisan karo kumpulan filter lan holder Cokin. Ora klalén, mbongkar-pasang tripod lan monopod, mbukak-tutup reflektor lan nyoba-nyoba fill-in flash, cable release & cable synchronizer.

Nêmbé kêrasa kélangan...

mBiyén dibélani tangi mruput, ora nganggo adhus, sarapan sak kecêkelé mén bisa enthuk gambar sing apik. ngGuwang-guwang roll film, ngenték-entéki dhuwit kanggo ukara sing bisa muspra, asal bisa motrét sing luwih apik.
ngRasa deg-degan karo hasilé motréti, iyo nek dadi apik, nek kobong kabéh piye..??
nJéréngi celluloid nang srêngéngé utawa lampu sing padhang, ben bisa milih frame sing arep dicetak, ati-ati... banget.

Nêmbé kêrasa kangen..

Mugi Gusti paringi kêsabaran tuwin kêkiyatan dumatêng kula, uga bisa sagêt mlampah malih datêng margi, "nangkapi" punapa mawon ingkang ketingal mripat. Nyingkabi prakara ingkang saé, mbotên nyuwara sing ala.

ARROGANT

Kenapa pula kata “arogan” sampai ada di kamus?
Bukankah kata itu berkonotasi negatif?
Seandainya ku mampu mengubah dunia, sudah pasti kata itu akan kuhapus. Dari kamus, dari pembicaraan-pembicaraan tingakt internasional hingga rumah tangga, dari benak setiap orang.

Terkadang tanpa disadari, seseorang telah berlaku arogan terhadap sesamanya. Sudah pasti melukai perasaan si korban yang bingung, tanpa sebab ter-zolim-i (kok jadi mirip-mirip Musollini?). Tak ada takaran yang pasti, batas ke-arogan-an sesorang. Yang bisa merasakan sudah pasti hanya lingkungan sekitarnya, dan tentu saja batasan etika yang berlaku dalam kultur tertentu.

Ketika sang Raja "mendongakkan" (spoiler alert: awas permainan kata!) kepala, sambil melirik sinis ke arah rakyat jelata, bagi warga pendatang dan orang bukan penduduk kerajaan berarti Raja yang arogan. Lain halnya pendapat para hamba sahaya dan kaum sudra, perbuatan itu hanyalah "menengadahkan" kepala, suatu hak yang dimiliki Raja, sebuah pernyataan status.

Bagaimana bila yang "menengadahkan" kepala itu pejabat atau pimpinan atau komandan atau ketua suatu struktur kelembagaan? Masih adakah yang menganggap perbuatan tersebut sebagai "hak"? Sebuah pernyataan status?

Betapa JRR Tolkien memutar balikkan kata "you-know-what" menjadi karakter yang penuh kerendahan hati. Aragorn. The King or Gondor, the heir of Isildur, the Narsil bearer. Lord of the Ring (bukan RingLord - Pen.) memberikan pelajaran yang sangat gamblang, Good versus Evil. Menjadikan karakter Aragorn sesosok "makhluk sempurna". Menjalani panggilannya sebagai ranger dengan identitas Strider, sosok terendah di kasta ksatria, hingga menjadi King of Gondor, hak asasinya.

Kenapa pula kata “arogan” sampai ada di kamus? Sudah pasti bukan kerjaan JRR Tolkien, karena beliau bergabung sebagai tim penyusun kamus di Oxford University Press ketika telah sampai huruf W.
Mungkin memang nama itu yang dipilih sebagai penyeimbang sebuah arogansi kekuasaan.

I wish my name is Aragorn.

Peace Bearer's Pray

Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian; entah kepada sesama, kawan maupun lawanku,
Jadikanlah aku pembawa cintakasih; tanpa pamrih, tanpa batas.

Bila terjadi penghinaan; terhadap ciptaanMu,
Jadikanlah aku pembawa pengampunan; tanpa syarat.

Bila terjadi perselisihan; baik pikiran, perkataan maupun perbuatan,
Jadikanlah aku pembawa kerukunan; secara sengaja, secara sadar.

Bila terjadi kebimbangan; sebuah keputusan maupun beberapa pertimbangan,
Jadikanlah aku pembawa kepastian; menyuarakan keyakinan.

Bila terjadi kesesatan; arah pikiran dan akal budi,
Jadikanlah aku pembawa kebenaran; meski tak sejati, sebagaimana diriMu.

Bila terjadi kecemasan; akan hari ini, hari esok, hingga lusa nanti,
Jadikanlah aku pembawa harapan; semangat dan dukungan.

Bila terjadi kesedihan; tanpa secuilpun kesukaan di sana,
Jadikanlah aku sumber kegembiraan; penuh keceriaan dalam suka.

Bila terjadi kegelapan; di atas bumi maupun di dalam hati,
Jadikanlah aku pembawa terang; dari haribaan para Kudus.

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai; melayani tanpa minta dilayani, menyentuh penuh cinta tanpa minta disentuh, menghadirkan saat-saat berkesan tanpa minta disediakan waktu khusus.
Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni, dengan mati suci kami bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya; berkarya sebagai alatMu, bertunas selayaknya benihMu, berbuah demi kemuliaanMu.
Amin.

“qui manducat meam carnem et bibit meum sanguinem in me manet et ego in illo” Giovanni.6:56

(taken from Madah Bhakti)

Pit-Pitan

Heran dehh... wong namanya fietsj kok dibilang pit... sesingkat itu...

Hanya karena lidah Tiang Jawi yang tidak biasa bermain-main di multilanguage jadinya kagok dan bingung melafalkannya..

Suatu kegiatan yang menggunakan sepeda (kayuh) bersama teman-teman (atau, bersama-sama teman?), kloyong-kloyong dalam keceriaan. Bisa pagi hari ke perbukitan, menyusur keramaian sepanjang sisi kota atau hanya sekedar mibeng-mibeng desa, jajah milangkori.
Kemanapun, apapun merek "kereta angin", dengan siapapun, tetaplah, pit-pitan menjadi sebuah sarana silaturahmi dan kebugaran badan yang cukup murah, meriah dan tentu saja sangat "Go Green!"

Wasser!

Akankah mendung itu menjadi hujan? Ataukah dia hanya menggantung tanpa arah, menaungi bumi dari teriknya mentari.

Sebuah proses alami, menguapnya air, berkumpul di lapisan stratosfer dalam bentuk partikel-partikel kecil, ion kata para pakar kimia, kemudian berubah menjadi kristal air, H2O, setidaknya begitu komposisi awalnya, meski terkadang ada pula unsur kimiawi lain yang turut serta. Terdorong oleh angin, terdesak oleh tekanan udara, termampatkan oleh keadaan. Sirrus & Cumulus-Nimbus; contoh hasil proses alami.
Seketika mereka jenuh, telah cukup waktu untuk bersekutu, saatnya telah tiba menghampiri sang bumi. Embun, Kremun, Gerimis, Hujan hingga Badai..
Puncak pegunungan, lembah dan ngarai, pepohonan serta padang sabana, pasir hingga bebatuan. Landasan keras dan lembut, hanya bisa menerima dengan pasrah, kedatangannya..

--- --- ---

Pada hakekatnya, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, berbentuk seperti tempat yang diisi, berwarna sebagaimana pantulan cahaya dan warna disekitarnya. Terkadang air menjadi sangat dingin, hngga membeku. Terkadang juga panas menggelegak, meronta-ronta melepaskan unsur udara dari dalamnya.

Manusia yang katanya 80% berunsurkan air, selayaknya berlaku laksana air. Menjunjung tinggi hakekatnya. Membiarkan hidup mengalir, melepaskan ego ke tempat paling rendah. Merubah perilaku dan perbuatan sebagaimana lingkungan sekitarnya, mencirikan corak dan ragam kehidupan seputarnya. Tenang tanpa harus menderu, mengalirkan arus yang tak terlihat, bersikap. Bersemangat ketika suasana menghangat, menyuarakan isi nurani tanpa mengkhianatinya. Konon, isi nurani dapat terlihat, bukankah nurani adalah cahaya mata? Jendela jiwa? (Nur=Cahaya, Aini=Mata)

Wasser n (-s;O)air;Gewässer perairan; Kölnisch ~ air kelonyo(r); et. fällt ins ~, ugs. sst. dibatalkan/batal; das ~ steht j-m bis zum Hals sso. berada dl. kesulitan (keuangan) yg. mencekik; mit allen ~n gewaschen sein lihai/licik sekali; ~ lassen buang air kecil, kencing.
(Kamus Jerman Indonesia, Adolf Heuken SJ, GM.214.87.160)


"pax vobis, sicut misit me Pater, et Ego mitto vos" J.20:21

Sunset

Tanpa bermaksud sentimentil ataupun menonjolkan ke-melancholi-an..

Bhre & Bunda, sunset at Parangtritis.


Langit sore mengiringi sang mentari yang akan berpulang ke haribaan bumi. Langit sore semacam langit di bumi Majapahit, mengiringi kemenangan Bekel Gajah Mada dan para Bayangkara atas keburukkan siasat para Wenehsuka; Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak..

Masih dia membara, meski jelas telah paripurna tugasnya sepanjang hari ini; membangunkan Kinanthi untuk berkokok dengan semburat fajar nan merdu, menemani keceriaan para tunas bangsa menuju bangku sekolah, membantu para pahlawan berkubang lumpur yang sedang menantikan keringnya bulir gabah hasil panen, mengeringkan cucian seisi jagad raya yang akan segera disetrika, mengisi solar-cell dengan daya linuwih Sang Pencipta untuk dirubah menjadi jutaan volt demi penerangan dan kesejahteraan umat manusia, tak lupa menerangi sisi-sisi gelap di bawah naungan rain-forest bagi para perambah hutan..

Masih dia membara, hingga pixel terakhirnya, meninggalkan jejak merah merona, ataukah jingga?
Aku terdiam. Seakan dicubit oleh Gusti Ingkang Murbeing Jagad, alam raya selalu memberi kita contoh, bagaimana menghadapi hidup, bagaimana menjalani hidup, bagaimana memaknai hidup, bagaimana mensyukuri hidup.

Masih dia membara, mengingatkanku, "Teruslah bersinar, hingga saat kau lenyap. Sisakanlah rona warnamu bagi dunia, beri mereka harap akan hadirmu esok."

Sang Srengenge Surya Baskara kini telah tertidur, pulas dalam dekapan Ibu Pertiwi. Benarkah dia tidur?
Mentari si Bola Api, menyusun kekuatannya, untuk kembali bersinar, melanjutkan tugas kesehariannya esok hari. Demi kita umat manusia..



"..one united world, under GOD.."