08 January 2009

G.O.L.F

Once upon a time... [mirip cerita HC Andersen..] there life a beautiful young lady in the forest whom being greet by the undercover prince.. [tuh kan... jadi dongeng....]

Sekali waktu peristiwa [awas.. mulai lagi..], kami kedatangan tamu, sebut saja tuan Alfa, yang ingin bisa bermain golf. Dengan penuh keyakinan, tuan Alfa bersikukuh harus bisa menguasai permainan golf dalam waktu dua minggu..!! Sebuah keputusan dan goal-setting yang cukup gila menurutku. Bagaimana tidak, rata-rata orang awam yang baru mulai bermain golf baru siap setelah [setidaknya] satu bulan, itupun selama empat kali seminggu, setiap latihan menghabiskan sampai 500 bola di driving range setiap latihan, dan mencatat segala sesuatu tentang grip, swing dan semuanya secara saksama.
Lha yang ini, kok yo nekad, mau pintar dalam waktu dua minggu..
Ternyata semua peralatannya tuan Alfa telah siap, Driver 10,5° merk ternama, Wood 3&5 hingga Rescue, Iron set dengan blade yang full mengkilat, Putter futuristik yang katanya dibeli seharga kamera digital prosumer, Golf Bag yang harganya setara satu sepeda motor produksi China, Golf Shoes seharga tidak lebih murah dari putter. Belum lagi utilities lainnya; Tee [konon dari jenis sekali pakai], Ball [sebuah sama dengan flashdisk 512Mb. harganya], Ball Marker [bonus dari topi yang pet-nya ber-magnet], T-Shirt senilai DVD Player, Topi dengan merk terkenal yang bernuansa golf; Titleist, Callaway, Mizuno, Jack Nicklaus, Nike TW, Lynx, Mc.Gregor, Nickent hingga Beres [swear..!! ini merk peralatan golf, bukan sekedar; "Beres, Boss..."].
Tak ketinggalan; sun-screen dengan SPF.50 termasuk satu perangkat GPS tercanggih. Waw...!!! Luar biasa..!!!


Di satu sisi, seseorang lainnya, kita sapa beliau pak Bravo, hanya memiliki Iron-7, Pitching 56° dan Putter. Glove yang dipakai juga bukan dari jenis sekali pakai langsung buang, bersepatukan keds biasa dan berkaos seadanya, jenis kaos berkerah yang mudah ditemui di dalam keranjang-keranjang obralan swalayan besar.
"Kayaknya saya belum bisa main ke lapangan, Mas." ujar beliau suatu ketika. "Mukulku masih jelek." Betapa bijaknya, mengingat beliau pak Bravo sudah habis berbulan-bulan berlatih golf dengan tekun. Kapan dong mainnya..??

Kita mungkin [dan hampir 90%] salah satu dari mereka, atau pula kombinasi unik dari keduanya. Tuan Alfa, siap dengan segala peralatan tercanggihnya, tapi yang namanya golf [dan kehidupan itu sendiri] adalah permainan yang mengandalkan hati. Tak bisa di target sebagaimana rupa untuk dicapai pada kurun waktu tertentu, meski telah siap segala peralatannya..
Bapak Bravo secara mental mungkin lebih siap [setidaknya begitu perasaanku padanya... taela..] hanya karena peralatan yang kurang beliau merasa masih jelek.
Mungkinkah keduanya disatukan? Mental yang siap dengan peralatan yang mutakhir. Atau peralatan yang minim dan bertambah seiring dengan semakin dewasanya penguasaan mental seseorang. Yang pasti, tak ada yang mampu mencapai kesempurnaan, selain Tuhan Yang Mahaesa, Allah Maha Besar, Sang Hyang Widhi...

So, let's pray... semoga tuan Alfa, orang yang serba berlebihan mau berbagi dengan orang yang berkekurangan, dan semoga pak Bravo mau melayani sesamanya, berbagi ilmu dan mentalitas sehat meski dalam keadaan berkekurangan, menguatkan hati sesama..
EPILOGUE:
Tuan Alfa mulai bermain gol sekenanya di padang golf setelah latihan rutin selama tiga bulan, hingga grip putter harus diganti, hingga sun-screen habis sebotol, hingga batteray GPS perlu diganti pula..
Bapak Bravo kini menemani tuan Alfa, berbagi pengetahuan dan saran sambil turut menggunakan peralatan golf tuan Alfa.

GOLF:
Gentleman Only, Ladies Forbidden. [I'm not sure...]
Gender Order, Least Forgotten. [sometime..]
Girls Or Lads, Fairpaly..! [supose..]
Grip On, Look Forward..! [watch-out...]

05 January 2009

Matinya Media

[Sebuah respon reaktiv atas tulisan Sdr. Kristupa Saragih;
JPG Magazine Berhenti Terbit]

"Kematian sebelum adanya kehidupan.."
(Ignatio 0109)

Saya masih menyimpan majalah FOTO-Media jaman dulu, dengan anggapan akan mendapat banyak ilmu disana, maklum, jaman masih analog.. Betapa bungah hati ini, demi melihat lembar-lembar berwarna di dalam majalah [yg nggak murah u/ ukuran mahasiswa] penuh ilmu dan tentu saja sponsor yang mengisi sekitar 30% kandungan majalah. Nasib majalah-majalah FOTO-Media saya sekarang dirawat oleh HRD Hyatt Regency Yogyakarta di etalase Perpustakaan.

Masih lekat pula majalah snap! yang sarat makna dan warna, dan berujung pada pengunduran diri seketika, alias bubar. [satu kenang-kenangan yang masih kupunya; Photo Techniques Vital Skills Guide, gambar-gambarnya ehemm...]

Satu lagi, HSB Himpunan Seni-foto Bengawan, asli Surakarta. Majalah yang membahas dunia fotografi terbit secara ekslusif bagi para anggotanya. [lucky me, dapat bocoran..]

Tiada seorangpun yang berpendapat salah, semua benar, meski harus dilihat dari kacamata setiap orang tersebut. Bagaimanapun, Derek Powazek dan Heather Powazek Champ adalah pioneer yang membuka jalan, meski mereka harus meninggalkan ruote yang telah mereka rintis, yang semoga saja, membuka route lain yang baru..
Semoga majalah EXPOSURE masih akan terbit, selama tidak harus dicetak [kasian tuh pu'unan ditebangin..] dan para kontributor tetap setia menyumbangkan sedikit celebrar-nerve bagi majalah EXPOSURE. [sambil berharap-harap cemas; semoga Kristupa Saragih & Valens Riyadi tidak walk-out terhadap Fotografer.Net sebagaimana Derek & Heather...]