Hari semakin siang, panas matahari yang membakar turut melemahkan Yesus. Para penghujat Yesus masih ada di sepanjang jalan, terus menerus memakiNya. Malkhi, seseorang yang pernah disembuhkan Yesus dari kebutaan menerobos barisan serdadu Romawi. Memaksa untuk memberi bantuan. Tentu saja para serdadu menolak mentah-mentah. Begitupun Remigus, yang dulu berpenyakit lepra, ditendang dengan entengnya oleh para serdadu karena hendak menolong Yesus.
Melihat gelagat yang sangat tidak enak itu, para pemuda dari Bet Lehem kebingungan mencari cara untuk menolongNya. Datanglah Stefanus [orang yang kelak menjadi martir pertama], menawarkan sebuah gagasan ditengah peliknya keadan. "Aku baru saja datang dari Kirene, bersama rombongan yang ingin bertemu dengan Rabbi. Kami akan bantu Rabbi membawa salib." Ketiga pemuda Bet Lehem seperti mendapat harapan baru. "Bagaimana kau akan melakukannya?"
Stefanus terdiam sejenak. Berpikir keras. "Begini, tolong kalian hambat sejenak iring-iringan ini. Nanti biar Simon, kepala rombongan kami yang akan memutuskan." Segeralah Stefanus melesat, hilang di tengah kerumunan massa.
Terinspirasi dari Malkhi dan Remigus; Yoakim, Ruben, dan Yeremia anak Simeon, kembali menghadang parade berdarah itu. Memohon agar diperbolehkan membantu Yesus. Salah serang serdadu melihat mereka dan menyadari kalau ketiga pemuda itu adalah pembuat onar beberapa waktu sebelumnya. Bukannya di ajak bicara, melainkan tamparan dan pukulan bertubi-tubi menghujam ketiga pemuda Bet Lehem.
"et angariaverunt praetereuntem quempiam Simonem Cyreneum, venientem de villa patrem Alexandri et Rufi, ut tolleret crucem eius." (Mark 15:21)
Seakan tanpa tahu apa-apa, Simon melintas begitu saja, dan dipanggil oleh serdadu untuk membawakan salib Yesus, sementara serdadu lainnya sibuk melayani ajakan ribut para pemuda. Inilah saat yang dinanti, Simon dengan ketegasan memanggul salib Yesus, Alexander dan Rufus anak-anaknya, memapah Rabbi Yesus untuk terus berjalan. Demi melihat peristiwa itu, ketiga pemuda Bet Lehem pun berhenti melakukan konfrontasi dan mundur teratur.
Setiap beberapa dèpa, Simon dan Stefanus; juga Alexander dan Rufus, beserta anggota robongannya, bergantian memikul salib dan memapah Yesus. Yohannes dan Maria Bunda Yesus tersenyum bahagia dari kejauhan, menyaksikan kejadian indah tadi.
Yesus tetap tabah berjalan, menuju puncak kejayaanNya.
22 April 2009
Palèrènan IV : Gusti Yesus Kapapag Ingkang Ibu
Maria, Bunda Yesus, dikawal Yohannes dan beberapa pemuda dari Bet Lehem; Yoakim, Ruben, dan Yeremia anak Simeon, menerobos kerumunan massa, masuk keluar gang-gang sempit untuk memotong jalur perarakan Yesus oleh serdadu Romawi. Tampak pula Maria dari Magdala, Maria saudara Martha, dan Hanna orang Samaria ada dalam rombongan kecil Bunda Maria. Sementara di seberang jalan sana, di lorong yang lain, Yakobus & Simon Petrus, dua saudara sepupuan, turut mengikuti parade berdarah itu secara sembunyi-sembunyi. Ah, masih takut pula Petrus, bila ketahuan seperti dini hari tadi.
Setelah melewati tikungan, iring-iringan Yesus berbelok kiri, kearah selatan menuju bukit Tengkorak. Sambil tetap berteriak, para serdadu kembali menyuruh kerumunan massa untuk memberi jalan, karena dirasa kecepatan tempuh semakin melambat. Yohannes dan rombongan kecilnya telah menunggu dari jarak sepelemparan batu kedepan, semoga ada kesempatan untuk menghibur Yesus.
Iring-iringan semakin maju, mendekati Maria Bunda Yesus. Ketika sampai pada hitungan dua dèpa, terjadi hal yang tak diduga. Tanpa adanya kesepakatan dan perhitungan yan matang, Petrus dan Yakobus menghalau para serdadu dari sisi kanan iring-iringan Yesus. Terjadi sedikit kegaduhan. Rupanya Petrus telah mengeraskan hati untuk melawan keadaan, Ya, Simon si batu karang.
Demi melihat kesempatan yang baik, para saudara jauh Yesus dari Bet Lehem, turut memperkeruh suasana, mengganggu para serdadu dari sisi kiri mereka. Suasana semakin gaduh, Yesus terdiam, dan berlutut di jalanan. Maria Bunda Yesus, perlahan mendekati PuteraNya, mencium keningNya, mengusap pipiNya yang penuh darah dan keringat. Yesus menengadah, tersenyum dan bersabda, "Ibu, inilah jalanKu. Jadilah Ibu bagi dunia, jadilah Ibu bagi semua orang sebagai penggantiKu.."
Maria Bunda Yesus telah menyadari bila PuteraNya akan menyampaikan hal itu, "Yesuha, bagaimanapun, Kau tetap AnakKu.." Yohannes yang selalu mendampingi Maria turut tersenyum demi melihat kepasrahan dan ketegaran hati Yesus.
Suasana semakin panas, Petrus dan Yakobus tak kuasa melawan serdadu Romawi, begitupun Yoakim, Ruben dan Yeremia; orang-orang suruhan para tua adat Farisi membantu para serdadu untuk melawan mereka. Yohannes, segera menarik Maria kesisi jalan agar tak terkena tendangan para serdadu yang kini membabi buta. "Rabbi, aku akan membebaskanMu.." seru Petrus. Alih-alih senang, Yesus menatap dalam ke mata Simon Petrus, seakan menyuruhnya untuk pergi, jauh, tak perlulah membebaskanNya.
Petrus si nelayan Capernaum, seakan paham maksudNya, mundur teratur bersama Yakobus sepupunya.
"Bangun kau pemalas.!!", serdadu Romawi menarik dan memaksa Yesus untuk kembali berjalan..
Setelah melewati tikungan, iring-iringan Yesus berbelok kiri, kearah selatan menuju bukit Tengkorak. Sambil tetap berteriak, para serdadu kembali menyuruh kerumunan massa untuk memberi jalan, karena dirasa kecepatan tempuh semakin melambat. Yohannes dan rombongan kecilnya telah menunggu dari jarak sepelemparan batu kedepan, semoga ada kesempatan untuk menghibur Yesus.
Iring-iringan semakin maju, mendekati Maria Bunda Yesus. Ketika sampai pada hitungan dua dèpa, terjadi hal yang tak diduga. Tanpa adanya kesepakatan dan perhitungan yan matang, Petrus dan Yakobus menghalau para serdadu dari sisi kanan iring-iringan Yesus. Terjadi sedikit kegaduhan. Rupanya Petrus telah mengeraskan hati untuk melawan keadaan, Ya, Simon si batu karang.
Demi melihat kesempatan yang baik, para saudara jauh Yesus dari Bet Lehem, turut memperkeruh suasana, mengganggu para serdadu dari sisi kiri mereka. Suasana semakin gaduh, Yesus terdiam, dan berlutut di jalanan. Maria Bunda Yesus, perlahan mendekati PuteraNya, mencium keningNya, mengusap pipiNya yang penuh darah dan keringat. Yesus menengadah, tersenyum dan bersabda, "Ibu, inilah jalanKu. Jadilah Ibu bagi dunia, jadilah Ibu bagi semua orang sebagai penggantiKu.."
Maria Bunda Yesus telah menyadari bila PuteraNya akan menyampaikan hal itu, "Yesuha, bagaimanapun, Kau tetap AnakKu.." Yohannes yang selalu mendampingi Maria turut tersenyum demi melihat kepasrahan dan ketegaran hati Yesus.
Suasana semakin panas, Petrus dan Yakobus tak kuasa melawan serdadu Romawi, begitupun Yoakim, Ruben dan Yeremia; orang-orang suruhan para tua adat Farisi membantu para serdadu untuk melawan mereka. Yohannes, segera menarik Maria kesisi jalan agar tak terkena tendangan para serdadu yang kini membabi buta. "Rabbi, aku akan membebaskanMu.." seru Petrus. Alih-alih senang, Yesus menatap dalam ke mata Simon Petrus, seakan menyuruhnya untuk pergi, jauh, tak perlulah membebaskanNya.
Petrus si nelayan Capernaum, seakan paham maksudNya, mundur teratur bersama Yakobus sepupunya.
"Bangun kau pemalas.!!", serdadu Romawi menarik dan memaksa Yesus untuk kembali berjalan..
Subscribe to:
Posts (Atom)